Kisah Singa yang Masuk ke Kebun Pelayannya

JENDELAISLAM.ID – Terpesona oleh kecantikan pada sebuah kebun, sang singa  menyambangi. Namun karena sang singa meninggalkan jejak tapak kaki, prahara pun terjadi. 

***

Seperti biasa, Sang Raja Persia gemar sekali melihat-lihat pemandangan alam sekitar dari istananya yang tinggi. Dari situ  ia bisa menikmati udara segar, panorama alam yang indah serta bisa melihat-lihat berbagai aktivitas warganya.

Di tengah asyiknya bersantai, tiba-tiba mata sang raja tertuju pada seorang perempuan cantik di seberang istana. Sang raja terpesona hingga senyum mengembang dari bibirnya. Sementara perempuan itu tak tahu sedang diawasi. 

Sang raja benar-benar seperti dihipnotis oleh kecantikan perempuan di seberang itu. Karena itu, untuk mengungkap rasa penasarannya, ia pun bertanya kepada pengawalnya.

“Siapa perempuan itu?” tanya raja pada pengawalnya.

“Maaf, Baginda. Perempuan itu adalah isteri salah seorang pelayan Baginda.”

“Siapa nama pelayanku itu?”

“Fairuz, Baginda.”

Mendengar bahwa perempuan tersebut tidak lain adalah isteri pelayannya sendiri, raja segera turun dari tempatnya yang tinggi. Otaknya masih diselimuti bayangan isteri pelayannya yang sangat rupawan itu.  Timbul rencana di benaknya untuk memanggil Fairuz dan segera memberi perintah padanya.

Tak lama kemudian Fairuz di hadapkan pada sang raja.

“Fairuz, ambillah surat ini dan sampaikanlah surat ini (di surat itu tertera sebuah negeri dan nama tujuan surat)!”

Dengan penuh kepatuhan, pelayan itu lantas mengambil surat itu dan segera akan ia antarkan. Fairuz tak tahu isi dan tujuan surat itu. Ia juga sama sekali tidak mengetahui rencana sang raja di balik itu. Sebelum berangkat, surat itu diletakkan di bawah bantal di kamar tempat tidurnya. Ketika pagi tiba, ia berpamitan kepada isterinya dan segera berangkat.

***

Kepergian Fairuz membuat raja girang bukan kepalang. Segera saja, sang raja bergegas menuju rumah Fairuz untuk menemui isterinya yang cantik yang dilihatnya dari atas istana beberapa waktu lalu. Sang tamu mengetuk pintu pelan-pelan. Tuan rumah yang tak lain adalah isteri Fairuz membuka pintu dan betapa terkejutnya dia setelah melihat sang tamu ternyata adalah rajanya.  

“Maaf, Baginda. Ada maksud apa, Baginda datang kemari?” tanya isteri Fairuz setelah menguasai diri.

“Kami hanya berkunjung,” jawab raja. 

Isteri Fairuz menaruh curiga sekaligus menyatakan bahwa ia tidak yakin bahwa kunjungan ini akan membawa kebaikan.

Raja rupanya agak tersinggung atas kecurigaan isteri pelayannya itu, dan hal ini membuatnya murka, “Ketahuilah, aku adalah raja, tuan suamimu. Tidaklah engkau tahu itu?”

“Tentu saya tahu, Baginda,” jawab isteri Fairuz.

Lantas perempuan itu menyitir sebuah syair,

“Akan kutinggalkan airmu tanpa sisa

dikarenakan banyaknya yang mengambil

bilamana lalat jatuh pada makanan

aku angkat tanganku

dan singa-singa menghindari meminum air

bilamana anjing-anjing telah menjilatinya”

Setelah mencuplik sebuah syair, perempuan itu melanjutkan ucapannya, “Paduka Raja, engkau datang ke tempat dimana anjingmu berbagi minum dari tempat itu!”

Sang raja tersipu mendengar kata-katanya. Ia tahu maksud ucapan perempuan itu. Maka dari itu, ia segera pamit keluar dan meninggalkannya hingga lupa sandalnya tertinggal.

Sementara itu Fairuz yang sedang berada dalam perjalanan untuk melaksanakan perintah raja teringat bahwa suratnya masih tertinggal di rumah. Karena itu, ia berbalik arah untuk kembali ke rumah.

Tiba di rumah, Fairuz menemukan sandal sang raja. Seketika, pikirannya menjadi kacau dan curiga bahwa ia diperintahkan meninggalkan rumahnya menuju ke negeri yang jauh tidak lain karena ada sesuatu yang hendak dilakukan sang raja. Fairuz terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Namun ia tetap mengambil surat raja itu dan mengantarkan ke alamat yang dituju. Setelah tugas dari sang raja usai ditunaikan, Fairuz pulang kembali dan melaporkan kepadanya. Sang raja menghadiahinya 100 dinar, lalu Fairuz pergi ke pasar untuk membelikan hadiah yang menurutnya cocok untuk isterinya.

Saat memberikan hadiah itu, Fairuz berkata kepada isterinya, “Sebaiknya engkau mengunjungi ayahmu.”

“Mengapa? Adakah sesuatu yang istimewa hari ini?”

“Sang raja memberiku hadiah 100 dinar. Aku ingin engkau menunjukkan kepada ayah dan ibumu,” ucap Fairuz pada isterinya.  

Dengan gembira, isterinya berangkat pergi mengunjungi orang tuanya. Ia disambut gembira oleh seluruh anggota keluarga dan mereka bertambah gembira ketika mereka mengetahuinya ia tampak lebih makmur dari biasanya.

***

Satu bulan isteri Fairuz tinggal bersama keluarganya dan selama itu pula, Fairuz, suaminya tidak menanyakan kabar isterinya dan tidak pula ingat kepadanya. Ini membuat keluarga isteri Fairuz bertanya-tanya. Akhirnya keluarga sepakat untuk menanyakan langsung kepada Fairuz tentang masalah yang terjadi.

Salah seorang keluarga isteri Fairuz datang menemui Fairuz.

“Maukah engkau menjelaskan kepada kami penyebab kemarahanmu atau engkau menginginkan penyelesaian dengan menyerahkan masalah kepada raja?”

“Jika engkau hendak mengadukan kepada raja, maka lakukanlah,”  jawab Fairuz.

Mereka kemudian menyerahkan segalanya pada meja pengadilan. Dalam persidangan itu, saudara laki-laki isteri Fairuz berkata, “Sesungguhnya aku menyewakan pelayan istana ini sebuah kebun yang pagarnya utuh, dengan sumur yang airnya melimpah ruah, pohon-pohon rindang yang berbuah rimbun. Lalu ia makan buahnya, ia hancurkan pagarnya dan ia hancurkan sumurnya.”

Lalu hakim menoleh ke arah Fairuz dan bertanya kepadanya.

“Bagaimana tanggapanmu, Fairuz?”

“Tuan hakim yang mulia, aku telah menerima kebun itu dan aku serahkan kembali dalam keadaan lebih baik daripada sebelumnya.”

Hakim kemudian bertanya kepada saudara isteri Fairuz, “Apakah benar engkau telah menerima kembali kebun itu dalam keadaan lebih baik?”

“Benar, Tuan Hakim. Akan tetapi aku ingin mengetahui mengapa ia mengembalikannya?”

“Apa jawabanmu, Fairuz?”

“Demi Tuhan, Tuan Hakim, aku mengembalikan kebun itu bukan karena aku tidak menyukainya, melainkan karena suatu hari aku datang dan menemukan di dalamnya ada bekas kaki raja hutan –maksudnya adalah sandal sang raja—lalu aku takut singa itu akan menerkamku dan membuatku tidak dapat memasuki kebun itu, semata untuk menghormati singa itu,” jawab Fairuz.

Raja yang duduk bersandar, setelah mendengar jawaban pelayannya itu kemudian mengubah duduknya seraya berkata, “Hai pelayan, kembalilah ke kebunmu dengan selamat! Demi Tuhan bahwa singa itu masuk kebun tanpa membuat bekas sedikit pun, tidak pula menyentuh sehelai daun pun, tidak memetik sebiji buah pun dan tidak pula melakukan kerusakan apapun di dalamnya. Singa itu hanya sebentar sekali berada di kebun itu, lalu keluar lagi. Demi Tuhan, singa itu belum pernah melihat kebun seperti kebunmu itu, tidak pula pernah melihat pagar sekokoh pagar kebunmu dalam melindungi pepohonan yang ada di dalamnya!”

Fairuz kemudian bergegas pulang dan menjemput isterinya. Sementara hakim dan juga orang-orang yang hadir dalam persidangan tidak satu pun yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Sumber: Kembalilah ke Kebunmu!, dalam Hani al-Haj, 1001 Kisah Teladan, Pustaka al-Kautsar, Jakarta, 2004. Foto: Pixabay/Jahid_Jony