Menapaki Jalan-jalan Sunyi menuju Rahasia di Balik Rahasia

JENDELAISLAM.ID – Anda ingin menemukan Tuhan yang sebenarnya? Anda harus meniti laku para salik (pejalan yang mencari Tuhan). Anda tidak boleh buta (hati), karena bila buta (hati), maka Anda tidak akan bisa melihat cahaya akherat.  Bagaimana agar hati tidak buta?  Kuncinya adalah jangan lalai. Jangan sampai lupa akan kewajiban, tujuan, dan janji kepada Allah saat hidup di dunia.

Itulah salah satu pengajaran Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang dibeberkan melalui karyanya “Sirrul Asrar wa Mazhar al-Anwar fi Ma Yahtaju Ilaihi al-Abrar”. Menurut Syekh, di antara sifat-sifat yang menggelapkan hati adalah angkuh, sombong, iri, dendam, mengumpat dan sifat-sifat buruk lainnya. Pokoknya, berbagai sifat buruk ini dapat menjungkirbalikkan posisi manusia dari makhluk yang paling mulia derajatnya menjadi makhluk yang paling hina.

“Dan siapa yang di dunia ini buta (hatinya), maka ia di akhirat akan lebih buta lagi dan lebih sesat dari jalan (yang benar)” (QS. al-Isra: 72). Ayat ini menjadi semacam warning (peringatan) sejauh mana kita mengenal Tuhan di dunia, akan menentukan keberadaan kita di akhirat. Bila kita buta di dunia, tentu di akhirat akan lebih buta.

Satu-satunya cara agar hati bisa lebih terang, kata Syekh, adalah dengan mencari dan mengamalkan ilmu disertai tekad dan usaha yang serius.  Di samping itu, memerangi nafsu yang muncul dari dalam diri maupun dari luar yang serba menggiurkan agar semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.  

Masih menurut Syekh, bila cara ini dilakukan secara istiqamah, hati akan menjadi terang. Selanjutnya, orang yang hatinya terang akan mampu mengetahui hakikat, mampu menyingkap sebuah rahasia.

Ya, “Sirrul Asrar” karya Syekh ini menuntun kita untuk menapaki jalan-jalan yang sunyi menuju rahasia di balik rahasia. Syekh mengajak kita untuk menelusuri jejak-jejak Tuhan yang terhampar di alam semesta dan di dalam diri kita. Ajaran-ajaran dasar Islam; seperti: shalat, puasa zakat dan haji—dikupas maknanya secara mendalam dari sudut pandang sufistik.  

Sama seperti dua bukunya yang berjudul “Ghunyat at-Thalibin (Bekal Para Pencari)” yang berisi panduan menjadi Muslim yang shaleh dan “Futuh al-Ghaib (Penyingkapan Kegaiban)”, buku “Sirrul Asrar” ini pun mengulas prinsip-prinsip tasawuf. Malahan, kehadiran “Sirrul Asrar” ini seperti penghubung di antara kedua karya tersebut.  Orang akan lebih bisa memahami “Futuh al-Ghaib”setelah mempelajaridan menyelami “Sirrul Asrar”.***

Foto: HM