JENDELAISLAM.ID – Islam mengajarkan sikap kasih sayang dan toleransi yang tinggi. Sikap-sikap inilah yang menggugah kesadaran Tsumamah akhirnya menjatuhkan pilihan Islam. Padahal agama ini sebelumnya merupakan agama yang paling dibencinya.
Bagaimana bisa hidayah itu datang kepada seorang tawanan bernama Tsumamah?
Ternyata hidayah tersebut datang melalui sikap-sikap mulia Nabi SAW. Tsumamah yang telah menjadi tawanan merasa sangat di-manusia-kan dan diperlakukan dengan penuh kasih sayang.
Berikut ini kisahnya yang diselaraskan dari salah satu “Kisah-kisah Hadits Nabawi” karya Ahmad Umar Hasyim.
Berdialog
Suatu saat Nabi mengirim pasukan berkuda menuju Nejed. Pasukan itu kemudian menawan seorang laki-laki dari suku Bani Hanifah bernama Tsumamah bin Utsal. Tawanan tersebut kemudian dihadapkan kepada Rasulullah SAW.
Mereka mengikat kedua tangannya pada salah satu pilar masjid untuk diinterogasi. Tak lama kemudian Rasulullah SAW menemui tawanan tersebut.
“Apa yang kamu miliki, wahai Tsumamah?”
“Aku punya kabar baik, wahai Muhammad. Jika engkau membunuhku, engkau akan membunuh seseorang yang baru membunuh orang lain. Namun jika engkau membebaskan aku, engkau telah bermurah hati kepada seseorang yang tahu berterima kasih. Dan jika engkau menginginkan kekayaan, mintalah apapun yang engkau inginkan dariku,” jawab sang tawanan.
Di hari pertama, tawanan tersebut tetap dibiarkan dalam kondisi terikat. Hari kedua, kembali Rasulullah SAW mengajukan pertanyaan yang sama, “Apa yang engkau miliki lagi, hai Tsumamah?”
“Seperti yang pernah kukatakan kepadamu kemarin. Jika engkau membebaskan aku, maka engkau telah bermurah hati kepada seseorang yang tahu berterima kasih.”
Mendengar jawaban Tsumamah yang sama dengan jawaban sehari sebelummya, Rasulullah tetap membiarkan tawanan tersebut tetap terikat.
Memasuki hari ketiga, Rasulullah mengajukan pertanyaan yang sama, “Apa yang engkau miliki, hai Tsumamah?”
“Aku memiliki apa yang aku katakan kepadamu?” jawab Tsumamah, kali ini jawabannya lain dengan jawaban sebelumnya.
“Sungguh aku telah memafkanmu, hai Tsumamah. Dan sekarang engkau bebas,” kata Rasulullah SAW.
Jawaban Rasul tersebut karuan saja membuat Tsumamah tersentak. Betapa tidak, ia dikenal sebagai musuh orang Islam dan layak mendapat hukuman berat, tetapi Rasulullah justru dengan enteng memaafkannya setelah ia memberikan jawaban tersebut.
Sikap Mulia Nabi SAW
Akhirnya Tsumamah dilepaskan. Statusnya sebagai tawanan pun telah lepas. Tiga hari yang mengungkung dirinya cukup tidak mengenakkan. Kini udara kebebasan telah kembali dihirupnya. Ia tidak dijadikan tawanan begitu lama atau mendapatkan sangsi berat sebagaimana ia perkirakan, malah ia dibebaskan oleh Rasulullah saw. setelah tiga hari terikat dalam salah satu pilar masjid.
Padahal ia adalah musuh yang sudah membunuh prajurit Muslim dan pantas untuk menerima hukuman bunuh setelah dirinya tertangkap oleh pasukan Muslim.
Kebebasan tersebut sangat disyukuri Tsumamah. Ia berpikir, Rasulullah yang dianggapnya sebagai lawan ternyata berhati mulia, bersikap santun serta memperlakukan dirinya secara manusiawi meski kepada seorang tawanan sekali pun.
Apa yang sering dikatakan orang-orang tentang sikap mulia Rasulullah nyatanya bukanlah isapan jempol belaka, tetapi telah dibuktikan Tsumamah sendiri. Dari sinilah ia menyadari betapa agama Islam yang disampaikan Rasulullah saw. benar-benar mengajarkan kasih sayang yang sebenarnya.
Toleransi yang diperlihatkan Rasulullah yang sedemikian rupa mempunyai pengaruh yang besar terhadap kalbu Tsumamah. Rasulullah memberikan contoh teladan sikap toleransi yang tinggi tatkala berinteraksi dengan orang lain. Tidak memaksa dan tidak pula mengajarkan sikap dendam kepada orang sesuai dengan firman Allah SWT, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agam (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah…” (QS. al-Baqarah: 256).
Hati Tsumamah pun terkesan dan terketuk dengan Islam lantaran perlakuan baik Rasulullah SAW terhadap dirinya selama menjadi tawanan. Tak berselang lama, usai dibebaskan, Tsumamah kemudian menuju ke sebuah kebun kurma di dekat masjid.
Setelah membersihkan badannya, Tsumamah langsung menemui Rasulullah. Di depan Rasulullah, ia berikrar masuk Islam dengan sendirinya, “Asyhadu alla ilaha illa Allah wa-asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah). Ya Muhammad! Demi Allah, dahulu tidak ada wajah di belahan bumi ini yang aku benci selain dari wajahmu. Sekarang tidak ada wajah yang lebih aku cintai selain dari wajahmu. Demi Allah, dahulu tidak ada agama yang lebih aku benci dari agamamu. Sekarang, agamulah yang paling aku cintai. Demi Allah, dahulu tidak ada kota yang lebih aku benci dari kotamu, tetapi sekarang kotamulah yang paling aku cintai.”
Rasulullah merasa bahagia dan memberikan ucapan selamat padanya karena tawanan tersebut kini telah memeluk Islam. Malah Rasulullah menyuruhnya untuk segera melaksanakan umrah.
Namun dalam riwayat Ibnu Ishaq, menyebutkan bahwa Rasulullah merahasiakan ke-Islaman Tsumamah agar ia bisa menarik teman-temannya bersedia masuk Islam. Mengingat masuk Islamnya Tsumamah punya pengaruh yang sangat penting.
Anjuran Rasul dipatuhi Tsumamah. Maka segeralah ia berangkat umrah.
Sepeninggal Rasul, di daerah Yamamah, timbul gerakan murtad yang dipimpin oleh Musailamah al-Kadzdzab (orang-orang yang mengaku-aku sebagai Nabi) yang mengintimidasi dan melecehkan agama Islam.
Tsumamah dan pengikutnya keluar dari wilayah Yamamah sampai kemudian datang saat yang tepat kembali ke Yamamah untuk menangkis gerakan-gerakan Musailamah al-Kadzdzab. Tsumamah berhasil melawan gerakan-gerakan tersebut.
Apa yang dilakukan Tsumamah tersebut merupakan bagian manifestasi dari pernyataannya di hadapan Rasulullah SAW saat berikrar syahadat yang akan setia kepada Rasul dan cinta pada Islam.
Tsumamah juga memperhatikan betul bagaimana sikap seorang Muslim yang sesungguhnya tatkala berhadapan dengan lawan maupun berinteraksi kepada sesamanya, baik Muslim maupun non-Muslim.
Pelajaran Berharga
Islam mengajarkan sikap toleransi, kasih sayang serta memperlakukan orang dengan baik. Kendati seseorang itu adalah musuh Islam tetap harus diperlakukan semestinya, karena seorang musuh bisa semakin menunjukkan permusuhannya tatkala diperlakukan dengan tak senonoh dan menyalahi prinsip-pirnsip agama.
Sebaliknya bila diperlakukan dengan santun dan beretika bahkan memaafkan kesalahannya, tidak mustahil seorang musuh pun yang sebelumnya sangat membenci bisa berubah sikap. Tidak mustahil malah orang bisa bersimpati dan menunjukkan rasa hormatnya.
Itu pula yang dicontohkan oleh Rasulullah kepada Tsumamah. Bukankah Allah juga berfirman, “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah menjadi teman yang setia” (QS. Fushshilat: 34).
Memaafkan adalah pekerjaan yang tidak sulit tapi punya dampak yang luar biasa kepada orang yang diberikan maaf. Sebab orang yang merasa melakukan kesalahan merasa dihargai, diperhatikan, tidak malah dimaki-maki atau dimarahi.
Sikap memarahi atau membencinya justru menampilkan dirinya sebagai pribadi yang arogan. Kepada siapa pun orangnya, Rasulullah selalu menunjukkan sikap yang jauh dari arogansi dan keangkuhan. Karena menurut Rasulullah, bagian dari esensi agama adalah membuka komunikasi sebaik-baiknya kepada siapa pun dengan bahasa serta tutur kata yang santun dibarengi dengan sikap kasih sayang.***
Sumber Foto: Pixabay/fj21
