JENDELAISLAM.ID – Sekali pun panah beracun menancap di kedua lengannya, Fadzlan pantang mundur. Demi dakwah dan masa depan saudara-saudaranya, Fadzlan rela bersimbah peluh dan menerabas alam yang tak ramah.
Bermula dari Kegelisahan
Setiap langkah Fadzlan adalah upaya dakwah. Berhenti melangkah sama artinya berhenti berdakwah.
Pria kelahiran Patipi, Fakfak tanggal 17 Mei 1967, ini awalnya begitu gelisah saat melihat saudara-saudaranya di Nuu Waar (Papua) yang terbelakang dan buta agama.
Sementara orang di luar sudah maju di berbagai bidang, masyarakat Nuu Waar masih asyik dengan koteka dan tradisi animismenya. Nuu Waar adalah nama Irian pertama, Nuu berarti cahaya dan Waar itu menyimpan rahasia alam.
Keprihatinan inilah yang mendorong Fadzlan, yang sebelumnya aktif di berbagai kegiatan kampus dan kerohanian Islam, untuk membantu saudara-saudaranya agar bangkit dari keterpurukan. Bangkit dari jeratan kehidupan Jahiliyah menuju kehidupan yang bermartabat.
Fadzlan rela mendekati mereka yang tak sepaham, yang tidak menyukainya, yang membencinya bahkan mereka yang memfitnah dan hendak membunuhnya.
Sejak tahun 1980-an, putra hasil pernikahan dari Machmud ibnu Abu Bakar dan Siti Rukiah binti Ismail ini mendedikasikan hidupnya untuk dakwah dan masa depan generasi Nuu Waar.
Jalan Terjal dan Berliku
Setiap hari, Fadzlan menyusuri pedalaman Papua. Karena tak ada transportasi memadai, ia berjalan berhari-hari dari satu kampung ke kampung lainnya.
Medan sudah pasti berat. Belum lagi penolakan oleh kepala suku dan masyarakat ketika menyambut kedatangannya. Namun Fadzlan dan rombongannya (sekitar 10-20 orang) dengan tenang menghadapi.
Di hutan belantara Papua, Fadzlan masih mudah menemukan air di jalan, masih bisa berteduh di bawah rindangnya pepohonan, dan menemukan makanan di hutan.
Menurutnya, perjalanannya ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan apa yang Rasulullah SAW lakukan sewaktu hijrah dari Makkah ke Madinah, dimana medannya jauh lebih berat, air juga sulit didapat, musuh selalu mengejar ditambah lagi apa yang hendak dimakan dalam perjalanan.
Ada sebagian perkampungan yang bisa menerimanya dengan baik. Tetapi, tak sedikit yang menentang keras dan bahkan mengusirnya karena menganggapnya sebagai perusak tradisi mereka.
“Yang namanya dakwah memang harus menikmati caci-maki, fitnah, penolakan keras, ancaman tombak dan segala macam intimidasi. Itu harus diterima, tetapi bukan berarti kita harus mundur.”
“Seorang dai harus punya strategi. Kalau difitnah, kita harus bersikap lebih baik kepada mereka. Karena yang memfitnah itu tidak tahu siapa kita. Ketika kita dekati melalui kepala suku dan menjelaskan apa yang kita sampaikan, pada akhirnya mereka paham.”
Sebenarnya yang membuat masyarakat Papua terus terbelakang, menurut Fadzlan, bukan semata karena masyarakatnya sendiri, tetapi juga karena opini yang telah berkembang. Seperti opini masyarakat tidak perlu membuat pakaian (tetap dengan koteka) dengan alasan mempertahankan budaya, tidak perlu mandi dengan air melainkan cukup menggunakan minyak babi atau daging babi bisa mengusir nyamuk dan bisa membuat badan menjadi hangat saat hujan atau dingin.
Oleh karena itu, butuh waktu yang cukup untuk menyesuaikan diri, berbaur dengan mereka, barulah memperkenalkan nilai agama kepada mereka.
“Rata-rata kami berdiam di suatu perkampungan 3 bulan, malah ada yang satu tahun. Ada yang tiga bulan pertama, kita diusir, 3 bulan kedua baru mereka bisa menerima.”

Mengenalkan Kebersihan
Setelah berhasil masuk di suatu kampung, Fadzlan tidak serta-merta langsung mengenalkan Islam. Tetapi pelajaran pertama yang ia ajarkan kepada penduduk setempat adalah tentang kebersihan.
Dia memperkenalkan pada mereka tentang tata cara mandi yang benar. Alih-alih menggunakan minyak babi yang menjadi tradisi, mereka membersihkan kulit tubuh mereka dengan sabun mandi, menggunakan sikat gigi dan pasta gigi.
Oleh karena itu, setiap Fadzlan melakukan perjalanan dakwah, ia membawa peralatan mandi dan pakaian sekaligus memberikannya secara gratis.
“Biasanya kita coba kepala suku mereka untuk mandi. Ternyata responnya luar biasa. Katanya lebih segar dan indah ketimbang minyak babi,” kenang Ustadz Fadzlan.
Begitu mengenal mandi, mereka meninggalkan kebiasaan lama (membaluri tubuh dengan minyak babi). Mereka lebih memilih untuk menikmati keharuman sabun mandi.
Dari sini, mereka memiliki pemahaman yang benar tentang menjaga kebersihan. Padahal sebelumnya, mereka hanya tahu dari tradisi warisan turun-temurun.
Setiap Fadzlan dan teman-teman beraktivitas, mereka memperhatikan. Demikian pula waktu shalat di tempat terbuka, mereka mengintip dan berputar-putar di sekitar tempat tersebut.
Rasa penasaran mereka membuncah dengan mempertanyakan semua gerakan shalat, baik saat takbiratul ikhram, ruku’, i’tidal, sujud maupun salam.
“Bapak, agama kami Islam. Lima kali dalam sehari menghadap-Nya. Kami mengangkat tangan itu artinya kami ingin menyerahkan raga dan jiwa kami kepada Allah SWT. Terserah Allah mau menghukum atau memberikan hadiah kepada kami. Lalu kenapa kami bongkok badan (ruku’-red)? Ini sebagai tanda bahwa di bumi, ada tanah, pasir, pohon, laut, semuanya adalah sarana bagi manusia yang berakal untuk dinikmati, dijaga dan dilestarikan untuk generasi selanjutnya,” jelas Fadzlan.
“Kenapa sujud? Kami kecil. Kami tidak ada apa-apanya. Kami lemah, yang kuat adalah Allah. Kami meminta ampun terhadap dosa yang kami lakukan. Terus salam, tengok kiri dan tengok kanan, sambil bicara-bicara, maksudnya adalah kalau ada saudara kita di sebelah kanan yang belum tahu mandi, kami punya tugas untuk mengajarkan mereka mandi.”
“Kalau ada saudara kita di sebelah kiri yang belum tahu cara berpakaian, kami harus berusaha mencarikan pakaian untuk menutupi badan. Ada yang sakit, kami harus mencarikan obat. Ada yang lapar, tugas kami adalah mencari makan. Sehingga hubungan kami dengan Allah terus berjalan, dan kami juga bisa membangun komunikasi dengan manusia siapa saja di bumi sehingga terjadilah kedamaian, ketenteraman, kesejahteranaan dan ketenangan dalam beribadah kepada Allah SWT.”
Dengan memberikan pemahaman yang benar dan santun, dakwah Fadzlan menjadi lebih mudah diterima oleh masyarakat pedalaman.
Terbukti, mereka yang sebelumnya memusuhi dan mengusirnya, tidak segan-segan menyatakan keislamannya secara terbuka.
Setelah mereka masuk Islam, mereka dibina. Fadzlan selalu melakukan pembinaan di tempat itu, bisa dengan mengirimkan dai-dai yang ada di daerah setempat atau kepala suku setempat, sambil ekspansi ke perkampun,gan lain.

Terkena Panah Beracun
Mengingat dakwah sudah menjadi jalan hidup, Fadzlan sadar akan konsekuensinya. Suami dari Sri Ratu Fiftin Irjani, ini juga sering mendapat perlakuan buruk.
Salah satu pengalaman yang membekas adalah pada tahun 1994 saat melakukan survei ke sebuah perkampungan untuk dijadikan desa binaan di wilayah Timika. Fadzlan bukan saja ditolak oleh penduduk setempat, tetapi juga dilempari anak panah dan tombak karena ada yang memprovokasi.
Sebelumnya, Fadzlan berpesan pada teman-teman, bila dirinya terkena panah atau tombak, kemudian mati, mereka harus melanjutkan dakwah ini.
Baru sekejap bicara, tanpa disadari ternyata lengan kanan dan kiri Fadzlan sudah terkena anak panah. Ia cabut kedua anak panah yang menancap di lengan tangan kanan dan kirinya. Kemudian membakar pisau dan menusukkan pada bekas panah tersebut agar darah kotornya keluar dan racun tidak bekerja.
Sejurus kemudian Fadzlan langsung bangkit dan menyalami orang yang memanahnya.
“Terima Kasih, Bapak. Bapak orang hebat. Bapak bisa memanah saya. Tapi sayang, Bapak melarang saya masuk di kampung ini. Selamat tinggal, Bapak,” kata Fadzlan tanpa dendam.
Fadzlan mencoba melangkah keluar, namun ia tersungkur.
Setelah itu, Fadzlan pergi ke Makassar. Selain untuk berobat, juga untuk mencari bantuan donasi yang akan disalurkan kepada masyarakat pedalaman yang membutuhkan.
Tanpa diduga, di tempat akan diserahkan bantuan, ternyata orang yang pernah memanah Fadzlan bersama warga berjumlah 75 orang, sudah siap menyambutnya penuh antusias. Kali ini, mereka tidak menyambutnya dengan panah dan tombak seperti sebelumnya, akan tetapi mereka berkumpul di lapangan, berpelukan dan berikrar syahadat bersama.
Melihat pemandangan yang menakjubkan ini, Fadzlan menangis haru.
“Bahkan pohon kelapa yang tadinya tegak seolah ikut tunduk seakan baru mendengar pertama kali syahadat diucapkan di tempat itu,” kisah Fadzlan.
Perjalanan dakwah Ustadz Fadzlan tidak berhenti sampai di situ. Bersama rekan-rekan AFKN (Al-Fatih Kaaffah Nusantara), ia terjun langsung mengajak masyarakat yang masih telanjang untuk menutup aurat, mengingatkan untuk tidak memakan makanan yang diharamkan, dan membimbing akidah masyarakat secara berkesinambungan, melainkan juga menggali potensi SDM yang ada.
Fadzlan terus memotivasi putra-putri Nuu Waar dengan mencarikan beasiswa sebanyak-banyaknya.
“Generasi Muslim Nuu Waar harus menjadi generasi yang cerdas, beriman dan bertakwa,” begitulah harapan Ustadz Fadzlan.
Kiprah Ustadz Fadzlan sedikit banyak merubah wajah Nuu Waar (Papua). Di berbagai pedalaman, koteka tak lagi dikenakan, masyarakat sudah tahu kebersihan dan mulai belajar Islam.
Mudah-mudahan syiar yang telah dan terus ditebarkan Ustadz Fadzlan di tanah Papua bisa menginspirasi kita. Amin.***
Sumber Foto: AFKN
