JENDELAISLAM.ID – Negara Suriname bukanlah negara yang asing bagi umat Islam di Indonesia. Ada akar sejarah yang sempat berkelit kelindan di masa lampau kenapa negara Suriname bisa punya hubungan dengan umat Islam di Indonesia, terutama umat Islam Jawa. Dulu, saat menduduki Suriname, Belanda sempat menerapkan sistem tenaga buruh kontrak dengan mendatangkan tenaga-tenaga buruh dari negara dan wilayah jajahan Belanda, salah satunya dari Jawa (Indonesia).
Tak berlebihan jika populasi umat Islam (Jawa) yang tinggal di Suriname cukup banyak. Bahkan, populasi umat Islam di Suriname didominasi komunitas Muslim dari suku Jawa (69,6 %).
Setelah komunitas Muslim Jawa, kemudian suku Hindustan (23,6 %) dan disusul oleh suku-suku yang lain. Tapi dari kehidupan keberagamaan komunitas Muslim Jawa di Suriname itu, ada fenomena menarik yang masih mengakar kuat. Hal itu tidak lain lantaran sebagian besar imigran Jawa yang ke Suriname dulu tak sedikit yang berasal dari latar belakang Islam abangan.
Negara Suriname –yang terletak di Amerika Selatan- memang sebuah negara berbentuk republik dan dihuni oleh penduduk dengan beragam ras, agama, dan kultur. Kendati demikian, potret dan wajah Islam kini memercikkan cahaya terang di negara bekas jajahan Belanda yang merdeka pada 25 Nopember 1975 ini.
Kedatangan Islam di Suriname
Wilayah Suriname kali pertama ditemukan oleh Kapten Alonso De Ujida (berkebangsaan Spanyol), asisten pelayar terkenal Amrico Pespucci tahun 1499. Pada 1593, Spanyol menjajah Suriname, lalu tahun 1651, Suriname dijajah oleh Inggris.
Pada 1667, Belanda merebut wilayah itu dari tangan Inggris. Kemudian (tahun 1816), wilayah –yang disebut Guyana– itu dibagi menjadi tiga: Guyana di bawah jajahan Perancis, Guyana di bawah jajahan Inggris, dan Suriname di bawah jajahan Belanda.
Belanda menjajah Suriname cukup lama. Kurang lebih selama tiga setengah abad negara Belanda menjajah Suriname. Kemudian, pada tahun 1950, Suriname mendapat hak otonomi. Pada 1954, Suriname menjadi negara bagian Belanda, dan merdeka 25 Nopember 1975.
Dahulu, saat Suriname masih dijajah oleh Belanda, negara kincir angin yang waktu itu juga menjajah Indonesia bergantung dengan hasil perkebunan Suriname. Bahkan, Suriname tidak dapat disangkal menjadi sumber penghasil devisa terbesar bagi Belanda, di samping juga dari Indonesia dan negara jajahan Belanda yang lain.
Mega proyek perkebunan (seperti: tebu, kopi, kapas, jeruk, pisang, padi, kelapa, dan lain-lain) dibangun besar-besaran di Suriname. Untuk mengolah perkebunan di Suriname itulah, pemerintah Belanda mendatangkan ribuan budak dari Afrika Barat sejak tahun 1700-an –untuk dipekerjakan di perkebunan tersebut. Orang-orang yang didatangkan dari Afrika Barat inilah yang membawa agama Islam pertama ke negara Suriname tersebut.
Pada 1863, Belanda mengakhiri sistem perbudakan. Akibat sistem itu, mengakibatkan para budak yang dulu bekerja di perkebunan negara jajahan, termasuk Suriname meninggalkan ladang. Bekas budak itu akhirnya bekerja di tempat lain demi mencari penghidupan yang lebih baik.
Perubahan sistem itu membuat pemerintah Belanda mencari solusi. Akhirnya, Belanda menerapkan sistem tenaga buruh kontrak dengan mendatangkan tenaga-tenaga buruh dari negara dan wilayah jajahan Belanda, salah satunya dari Jawa (Indonesia).
Buruh-buruh kontrak dari Jawa awalnya didatangkan 94 orang. Mereka itu datang di Suriname pada 9 Agustus 1890. Buruh-buruh dari Jawa itu dipekerjakan di perladangan tebu dan perusahaan gula Marrienburg.
Tetapi, empat tahun kemudian, Belanda mendatangkan lagi buruh kontrak dari Jawa 592 orang. Selanjutnya, dari tahun 1890-1930 didatangkan lagi 32.965 buruh kontrak keturunan Jawa ke Suriname.
Dalam perjanjian kontrak waktu itu, para buruh dipekerjakan selama lebih kurang lima tahun. Setelah itu, para buruh itu boleh memilih: tetap tinggal di Suriname atau pulang ke Jawa. Tapi, setelah kontrak selesai, tragisnya sebagian besar dari mereka tak bisa pulang ke Jawa lagi. Akibatnya, mereka pun menetap dan menjadi warga Suriname.
Tak pelak, jika keberadaan buruh-buruk kontrak dari Jawa itu pun kian mengukuhkan agama Islam di Suriname. Maklum, sebab sebagian buruh-buruh asal Jawa itu kebanyakan beragama Islam.
Itulah sejarah panjang kenapa tidak sedikit orang Jawa menjadi warga negara Suriname. Kedatangan Islam ke Suriname selain dibawa oleh bekas budak Afrika Barat dan buruh kasar keturunan Jawa, kehadiran Islam di Suriname juga dibawa orang-orang Pakistan dan Afghanistan.
Dalam kehidupan sehari-hari, komunitas Muslim Jawa masih belum terlepas dari akar tradisi dan budaya Jawa. Acara keagamaan, seperti selametan (seperti: sunatan, mitoni, upacara pernikahan) pun masih dipertahankan. Lebih dari itu, ada sebagian orang Muslim etnis Jawa yang menunaikan shalat menghadap ke barat – sebagaimana nenek moyang mereka dari Jawa. Padahal, letak atau keberadaan negara Suriname berada di sebelah barat Ka’bah.
Tetapi, seiring perjalanan waktu, pemahaman dan kesadaran sebagian besar umat Islam etnis Jawa di Suriname semakin meningkat. Jika dulu mereka memeluk Islam tidak lebih dari warisan nenek moyang, sekarang komunitas Islam dari suku Jawa sudah menunjukkan jati diri. Islam sudah dianggap sebagai “jalan” kebenaran dalam hidup. Kesadaran dalam keberagamaan itu –tentu—tidak terjadi dalam waktu sekejap dan terjadi begitu saja.
Peran lembaga/yayasan keagamaan, setidaknya memberikan sumbangsih besar. Salah satu dari lembaga atau yayasan keagamaan itu SIS (Stichting der Islamitische Gemeenten in Suriname). Organisasi keagamaan ini berperan penting sebagai penggerak angin perubahan hingga pemahaman Islam menjadi lebih baik dan komprehensif.
Pembaruan Islam di Suriname
Yayasan Islam Suriname atau Stichting der Islamitische Gemeenten in Suriname (SIS) bisa disebut sebagai sebuah lembaga paling berpengaruh di Suriname dari kalangan suku Jawa.
Lembaga ini mengusuh gerakan kembali ke ajaran Islam yang kaffah dengan “membangun” kesadaran dan pemahaman beragama dalam segala aspek kehidupan. Gerakan ini telah diusung
oleh lembaga SIS sejak tahun 1980-an dengan harapan bisa membawa “obor” perubahan dan kebangkitan bagi umat Islam di Suriname, terutama umat Islam dari suku Jawa.
SIS memiliki masjid utama, Masjid Nabawi dan juga 54 masjid lain yang tersebar luas di distrik Paramaribo dan distrik-distrik lain.
Sebagaimana peran masjid dalam sejarah Islam, Yayasan Islam Suriname ini pun menjadi masjid pusat kegiatan Islam. Masjid tidak digunakan sebagai tempat menunaikan ibadah shalat berjamaah lima waktu, tetapi sekaligus dijadikan tempat kegiatan sosial, dakwah, dan pendidikan.
Di masjid-masjid SIS itu, digelar pengajian dan ceramah. Hal itu diharapkan akan bisa manambah dan memperkaya pemahaman terhadap Islam. Juga, sebagai ruang atau tempat silaturahmi memperkokoh ukhuwah di kalangan jamaah.
Selain itu, di masjid-masjid itu juga dibuka aktivitas pendidikan, seperti: Taman Pendidikan al-Quran. Peserta didik yang datang tidak hanya anak-anak dan kaum remaja, tapi juga orang tua (seperti: pensiunan dan kakek nenek yang lanjut usia).
Selain memakmurkan masjid, SIS juga membangun sekolah (madrasah) yang dirintis sejak tahun 1980-an. Pendirian sekolah atau madrasah itu tidak lain untuk memberikan sarana atau tempat belajar bagi generasi muda untuk bisa menuntut ilmu dan memperdalam agama Islam. Uniknya, di sekolah atau madrasah yang didirikan oleh SIS ini tidak hanya anak-anak dari komunitas Jawa dan Islam, tetapi juga ada yang non-Muslim.
Tetapi di sekolah atau madrasah itu, murid atau siswa dari non-Muslim pun diharuskan mengikuti pelajaran agama (Islam), dan kepribadian Muslim.
Alhasil, berkat pelajaran agama Islam itu murid-murid non-Muslim mendapatkan pemahaman tentang Islam, dan bahkan ada yang kemudian memeluk Islam. Selain mendirikan sekolah/madrasah, SIS juga membangun panti asuhan untuk anak yatim dan juga panti untuk kaum jompo.
Komunitas Islam etnis Jawa yang tinggal di Suriname adalah kaum Muslim Jawa yang sebagian besar bisa disebut abangan. Kondisi itu membuat SIS melakukan gerakan pembaruan dengan memberikan pemahaman tentang Islam.
Salah satu agenda yang ingin diubah adalah perihal shalat menghadap ke barat. SIS mengajak dialog dengan memberikan pemahaman akan arah kiblat yang benar –sebab letak atau keberadaan negara Suriname berada di sebelah barat Ka’bah.
Perlahan, gerakan pembaruan Islam itu pun diterima. Masjid-masjid baru bermunculan akibat dari gerakan pencerahan Islam tersebut.***
Sumber Foto: Pixabay/OpenClipart_Vectors
