JENDELAISLAM.ID – Kenapa Nabi SAW senantiasa menganjurkan kita untuk bersedekah?
Karena manfaatnya sungguh luar biasa. Dia bukan saja melunturkan kotoran-kotoran yang bersemayam dalam jiwa kita, tetapi dengan sedekah, kita disadarkan untuk selalu peduli orang lain.
Nabi kita tidak mengajarkan umatnya untuk mengedepankan egoisme dan individual, tapi beliau menganjurkan agar kita terus memupuk jiwa sosial, solidaritas dan peduli sesama. Sebab di balik itu, sedekah memiliki kekuatan dahsyat yang positif bagi penerima maupun pemberinya.
Satu kisah yang diterangkan dalam kitab “Irsyadul Ibad Ila Sabilar Rasyad” karya Zainuddin Ibnu Abdul Aziz al-Malibari, ini menuturkan bagaimana dahsyatnya kekuatan sedekah.
Kekuatan sedekah yang akan dikisahkan di bawah ini, dilakoni oleh Athiyah bin Khalaf dan terjadi tepat pada tanggal 10 Muharram. Dalam Islam, 10 Muharram juga dikenal dengan istilah ‘Asyura yang berarti hari kesepuluh dan hari yang penting dalam catatan sejarah.
Bersedekah pada Janda dan Anak-anak Yatim
Athiyah bin Khalaf sebelumnya berprofesi sebagai pedagang kurma di Mesir. Bisnisnya sukses luar biasa. Dan kekayaannya pun melimpah ruah. Hebatnya, meskipun kaya raya, ia tidak lupa diri. Ia tetap rajin beribadah serta gemar bersedekah.
Di hatinya, harta tidaklah berarti apa-apa apabila tidak membuatnya dekat kepada Allah SWT. Ia sadar bahwa harta tidak semestinya membutakan mata hatinya, melainkan dengan harta harus makin menambah ketakwaannya kepada Allah SWT. Karena itu, makin banyak harta yang dipunyai, makin banyak pula yang harus ia sedekahkan supaya Allah meridhai.
Akan tetapi suatu ketika, bisnisnya hancur. Usahanya bangkrut. Sehingga kondisi ekonomi Athiyah berubah 180 derajat. Ia jatuh miskin. Semua kekayaan yang dimilikinya ludes. Yang tersisa hanya rumah dan selembar pakaian ala kadarnya yang dikenakannya. Saking miskinnya, ia harus bekerja hari itu juga demi sesuap nasi, dan malah kadang-kadang tidak ada yang bisa dimakan.
Dalam situasi ini, Athiyah tenang-tenang saja. Ia menganggap semua ini adalah etape kehidupan yang harus dilewati. Justru ia merasa bersyukur karena dengan tidak adanya kesibukan mengurus perniagaannya, ia mempunyai banyak waktu untuk beribadah kepada Allah.
Pagi itu kalender Hijriyah menunjukkan angka 10 Muharram (Asyura). Seperti hari-hari biasa, Athiyah mengerjakan shalat Shubuh berjamaah di masjid. Setelahnya, ia melanjutkan iktikaf di Masjid Amr bin Ash, salah satu masjid bersejarah di Mesir yang dibangun oleh sahabat Nabi SAW, Amr bin Ash tatkala menjadi gubernur di sana.
Usai iktikaf, Athiyah beranjak keluar dari masjid. Ia mau pulang. Tetapi baru beberapa saat kakinya melangkah, seorang ibu dengan beberapa anaknya yang juga baru keluar dari masjid menghampiri.
“Maaf Tuan, tolong kasihani anak-anak yatim ini! Mereka perlu makan. Sedang aku tak punya harta secuil pun karena belum lama ditinggal wafat suami. Sudah tujuh hari saya di sini tanpa kenal siapa pun, dan baru hari ini saya keluar untuk mencari makanan bagi anak-anak saya ini!” wanita itu memelas.
Athiyah haru mendengar penuturannya.
“Aku tak punya apa-apa yang bisa kuberikan kepada wanita ini, kecuali pakaian yang kupakai ini. Jika aku buka di sini untuk kuberikan, maka akan terbuka auratku, tetapi jika aku menolak permintaannya bagaimana aku akan mempertanggung-jawabkan sikapku ini kelak di hadapan Rasulullah SAW?” batinnya.
Semula Athiyah ragu, namun akhirnya mengatakan, “Baiklah, ikut aku ke rumah dan aku akan memberi sesuatu kepada kalian!”
Mereka semua berjalan beriringan, dan ketika sampai di depan rumah, Athiyah melepas semua pakaian yang dipakainya dan memberikannya kepada wanita tersebut dari balik pintu, yakni dengan membuka sedikit pintunya dan mengulurkan tangannya. Ia berkata, “Jual saja pakaian ini, dan gunakan uangnya untuk membeli makanan bagi anak-anakmu!”
Menerima sedekah itu, janda itu sangat gembira. Serta merta berdoa, “Semoga Allah memberikan pakaian dan perhiasan dari surga kepada Tuan. Semoga setelah hari ini, Tuan tidak lagi berhajat (memerlukan) kepada orang lain!”
Athiyah pun senang atas doa yang dipanjatkan wanita tersebut dan mengaminkannya. Ia hanya mengenakan kain sekadarnya yang masih tersisa, meskipun tidak sepenuhnya bisa menutup seluruh badannya sehingga tidak mungkin baginya keluar rumah. Ia hanya berdzikir dan shalat di dalam rumah, dan menutup pintunya untuk tidak menerima tamu dengan keadaan seperti itu.
Bersanding dengan Bidadari
Malam harinya, Athiyah tertidur karena terlalu larut dalam dzikirnya, ia bermimpi didatangi oleh seorang bidadari yang sangat cantik. Bidadari itu membawakan sebuah apel. Setelah Athiyah membelah apel tersebut, ternyata ada pakaian dan perhiasan yang sangat indah di dalamnya. Sang bidadari memakaikan pakaian dan perhiasan itu kepada Athiyah kemudian duduk di pangkuannya.
Antara kaget dan senang, Athiyah bertanya, “Siapakah engkau ini?”
“Aku adalah Asyura, isterimu kelak di surga!” jawab bidadari itu.
“Sepertinya aku tidak mempunyai amalan yang istimewa, dengan amalan apakah aku memperoleh karunia sebesar ini?”
“Berkat doa dari seorang janda dan anak-anak yatim yang engkau tolong kemarin!”
Sontak, Athiyah terjaga. Ia masih di dalam rumahnya yang gelap dengan pakaian seadanya. Ia sangat gembira dengan mimpi yang begitu nyata dirasakannya. Kemudian segera ambil wudhu dan shalat dua rakaat.
“Ya Allah, bila mimpiku itu memang benar dari sisi-Mu, dan Asyura itu memang isteriku di surga, maka segerakanlah kematianku, ambillah ruhku sekarang juga!!” doanya dipanjatkan seraya memandang ke langit.
“Kun fayakun”, doa itu langsung dikabulkan oleh Allah SWT. Tubuh Athiyah terkulai di atas sajadahnya, dan ruhnya telah menghadap Allah SWT dengan bibir tersenyum.
10 Muharram dan Hari Anak Yatim
Memang dalam penanggalan Hijriyah, 10 Muharram terbilang hari istimewa. Amalan baik yang dianjurkan oleh Nabi SAW pada hari Asyura adalah berpuasa sunnah. “Tatkala Nabi SAW datang ke Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari Asyura. Beliau bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa AS berpuasa pada hari ini. Nabi SAW bersabda, “Aku lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk melakukannya” (HR. Bukhari).
Bahkan sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Namun jangan lantas berkesimpulan bahwa anjuran menyantuni dan memelihara anak yatim yang merupakan perilaku mulia hanya dilakukan di bulan Muharram saja. Tidak. Karena anjuran bersedekah dan menyantuni anak yatim bisa dilakukan kapan pun, tanpa terikat oleh waktu.
Akan tetapi, apabila ada sebagian umat Islam menganggap 10 Muharram sebagai bulan anak yatim sepertinya juga tidak perlu dipersoalkan. Lantaran sejarah mengungkap berbagai kisah teladan di dalam bulan itu, seperti kisah di atas. Selain itu juga banyak riwayat yang mencatat mengenai peristiwa penting ini. Di antaranya Umar RA pernah menjamu tamu dengan jamuan khusus, pada malam 10 Muharram (Musnad Imam Tabrani).
Kemudian hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda, “Dan barang siapa yang membelaikan tangannya pada kepala anak yatim di hari Asyura, maka Allah SWT mengangkat derajat orang tersebut untuk untuk satu helai rambut, satu derajat. Dan barang siapa memberikan (makan dan minum) untuk berbuka bagi orang mukmin pada malam Asyura, maka orang tersebut seperti memberikan makanan kepada seluruh umat Muhammad SAW dalam keadaan kenyang semuanya”.
Meskipun teks hadits berbunyi demikian, bukan berarti bentuk kasih sayang hanya diwujudkan dengan belaian rambut semata, tapi lebih luas maknanya yakni bagaimana mengurus anak yatim dengan baik yang diikuti dengan pemberian santunan untuk pendidikan, sandang, pangan, dan sebagainya.***
Sumber Foto: Sahal
