JENDELAISLAM.ID – Jangan heran bila ada anak TK (Taman Kanak-kanak) Pesantren Tarbiyatul Wildan di tahun pertama, sudah mampu membaca al-Qur’an, hafal surat Yasin, surat-surat pendek, hafal bacaan shalat, wiridan dan doa-doa sesudah shalat, doa-doa sehari-hari, serta mampu membaca dan menulis huruf Arab dan latin.
Itu hal biasa di Pesantren TK Tarbiyatul Wildan. Karena pesantren ini memang menekankan santrinya pada hafalan Qur’an.
Dua tahun, para santri digembleng sedemikian rupa untuk fokus pada al-Qur’an. Harapannya, selain mereka mampu menghafal hafalan-hafalan di atas, juga mampu menghafal keseluruhan al-Qur’an sebanyak 30 juz. Bukan itu saja, mereka juga mampu menguasai dasar ilmu tajwid, tauhid, dan fiqih.
Fakta santri TK Tarbiyatul Wildan sudah berani tampil di publik dengan hafalan surat pilihan ketika pulang di kampungnya inilah yang turut membesarkan Tarbiyatul Wildan. Ternyata, ini menjadi publikasi cukup efektif –KH. Mamduh Mastari, pengasuh pesantren Tarbiyatul Wildan, menyebut sebagai dilalatul hal.
Namun gaung pesantren yang menggembleng santri penghafal Qur’an ini tidak lepas dari metode yang diterapkan. Tarbiyatul Wildan mengadopsi Metode Sedayu, yakni metode yang dicetuskan oleh KH. Muhammad bin Sofwan dari Pesantren Mambaul Hisan Sedayu Gresik Jawa Timur.
Metode ini mengenalkan anak pada huruf al-Qur’an dari paling dasar. Pengajarannya dilakukan setiap ba’da shalat. Dalam enam bulan, semua metode Sedayu sudah berhasil dikuasai santri. Karena itu, memasuki bulan ketujuh dan seterusnya mulailah santri membaca dan menghafal al-Qur’an.
Terletak di Desa Sukamerta Kec. Rawamerta Kab. Karawang, Tarbiyatul Wildan didirikan dengan motivasi untuk memberantas buta baca dan tulis al-Qur’an. Karena itulah, putra-putri kita yang ingin belajar al-Qur’an sekaligus menghafalnya, Pesanten Tarbiyatul Wildan bisa menjadi solusi alternatif.
Cabang dari Sedayu
Asal-usul Pesantren TK Tarbiyatul Wildan sebenarnya tidak lepas dari dorongan sang pencetus Metode Sedayu. Sebelumnya, KH. Mamduh kerap dimintai tolong oleh masyarakat; terutama dari daerah Karawang, Bekasi, Karawang, Purwakarta, Tangerang yang ingin memasukkan putra-putrinya ke Pesantren Sedayu Gresik. Bahkan saking antusiasnya masyarakat, KH. Mamduh pernah mengirimkan 300 anak –termasuk 3 putranya-, menggunakan 9 armada bis, 9 mobil kecil.
Kemudian KH. Mamduh mengirimkan 7 kader ke Sedayu untuk mempelajari Metode Sedayu selama 2 tahun. Dalam waktu bersamaan, KH. Mamduh –yang juga seorang dai– mulai membangun pesantren. Sambil berkeliling saat mengisi ceramah, KH. Mamduh menyelipkan informasi seputar pesantren yang digagasnya.
Akhirnya, pesantren berdiri pada 12 Februari 1992, diresmikan oleh KH. Abdul Muqsith (putra KH. Muhammmad dari Sedayu). Dengan berdirinya Tarbiyatul Wildan, maka pesantren ini resmi menjadi cabang dari Sedayu Gresik walaupun pelaksanaannya independen.
Nama Tarbiyatul Wildan disematkan karena tujuannya memang mengurus anak-anak, baik putra maupun putri. Begitu dibuka, ada 41 santri.
Seiring dengan antusiasme masyarakat, maka pesantren terus berkembang. Tarbiyatul Wildan pun mengembangkan sayapnya dengan membuka pendidikan non-formal, selain Tahfidzul Qur’an (menghafal al-Qur’an), ada pula TK al-Qur’an, serta Madrasah Diniyah (kajian kitab kuning).
Beberapa asrama kemudian dibangun, menyusul asrama yang telah ada. Pada tahun 1996, dirintislah pendidikan formal, MI-NA (Madrasah Ibtidaiyah Nihayatul Amal). Setelah itu, berdirilah SMP (2002) dan SMK serta MA (2009/2010).
Kini, Pondok Pesantren Tarbiyatul Wildan menjadi salah satu lembaga pendidikan yang representatif di Karawang. Hal ini dapat dilihat dari jumlah santrinya yang mencapai ribuan dan telah mengadakan wisuda bagi para santri kanak-kanak yang telah mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 5 kali.
Santri TK yang berumur 5-6 tahun ada 350 anak, kemudian yang usia MI (7-12 tahun) sekitar 750 anak sedangkan yang SMP, SMK dan MA berkisar 300 anak.
Tetap Bisa Bermain
Namanya anak-anak, tentu dunianya bermain. Karena itu, pesantren ini tidaklah telalu mengikat para santrinya malahan membebaskan mereka untuk bermain. Tetapi semua ini dibolehkan pada jam-jam bebas atau di luar jadwal kegiatan harian yang sudah ditentukan oleh pesantren.
Selain para santri mengikuti kegiatan harian yang sudah terjadwal, setiap hari Kamis dan Jum’at, para santri (TK dan MI) juga selalu dibiasakan untuk membaca Yasin, shalawatan, maulid, baca QS. al-Mulk, QS. al-Waqiah, dan QS. ar-Rahman.
Adapun tenaga pengajar di Tarbiyatul Wildan berasal dari alumni berbagai pesantren. Di antaranya dari Pesantren Mambaul Hisan Sedayu Gresik Jatim, Pesantren Tarbiyatul Wildan Nihayatul Amal Rawamerta Karawang, pesantren dari Subang, Indramayu, Cirebon, Semarang, Tangerang dan pesantren lainnya di sekitar Karawang.***
Sumber Foto: Tarbiyatul Wildan
