Kisah Jamaah Haji Indonesia: Nikmat Ibadah dan Persiapan Menuju Puncak Armuzna

Latihan Fisik, Ahmadi Sering Mendaki di Gunung Muria Latihan Fisik, Ahmadi Sering Mendaki di Gunung Muria

JENDELALISLAM.ID – Jamaah haji asal Indonesia merasakan kenikmatan beribadah di Masjidil Haram. Ahmadi, 54 tahun, asal Malang, Jawa Timur, menggambarkan rasa syukurnya.

“Alhamdulillah. Masya’ Allah. Nikmat tiada tara bisa dipanggil Allah untuk berdekatan,” ungkap pria kelahiran Ponorogo ini.

Ahmadi mengaku hanya melakukan umrah wajib satu kali, namun hampir setiap subuh dia mengunjungi Masjidil Haram untuk melakukan Thawaf sunah.

“Umrah wajib hanya sekali. Setiap hari hampir selalu melakukan Thawaf sunnah,” katanya di Masjidil Haram, Rabu (12/6/2024).

Bersama istrinya, Nur Fadilah, Ahmadi juga berziarah menapaki jejak-jejak Nabi Muhammad SAW, seperti Jabal Rahmah dan Jabal Tsur, serta mengelilingi area Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina). Mereka menggunakan bis yang dikelola oleh Kelompok Bimbingan Haji dan Umroh (KBIHU) untuk ziarah.

Afisena Abu Syafiq, seorang jemaah yang menginap di hotel AJM al Khalidiyah, juga berbagi pengalamannya.

“Alhamdulillah, sudah melakukan umrah,” katanya. Seperti Ahmadi, Sena juga melakukan ziarah di Makkah, termasuk mengunjungi museum wahyu di Hira Cultural District, kaki Jabal Nur.

Di puncak Jabal Nur terdapat Gua Hira, tempat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali pada 21 Ramadhan (atau 17 Ramadhan menurut versi lain) yang bertepatan dengan 10 Agustus 610 M. Di museum wahyu, terdapat mini teater yang menampilkan kisah Ulul Azmi, gelar yang diberikan kepada beberapa nabi dan rasul dengan ketabahan luar biasa, termasuk Nabi Muhammad SAW.

“Mini teater Ulul Azmi dan simulator Gua Hira sangat cocok untuk mereka yang enggan mendaki Jabal Nur,” kata Sena.

Jamaah haji lainnya, Sihan Waluyo, 64 tahun, berumrah hingga tiga kali dengan miqat di Tan’im.

“Saya lebih mengutamakan shalat di Masjidil Haram sekarang,” katanya.

Meski usianya 64 tahun, Sihan mampu mendaki hingga Gua Hira di puncak Jabal Nur.

“Saya duduk di dalam Gua Hira membayangkan apakah saya bisa dekat dengan Nabi SAW,” ungkapnya.

Sihan menjelaskan bahwa kemampuannya mendaki Jabal Nur berkat seringnya berziarah ke makam Sunan Muria di Gunung Muria, Jawa Tengah.

“Latihan mendaki sering saya lakukan di Sunan Muria. Perkiraan saya, ketinggian Jabal Nur dua kali lipat Sunan Muria,” jelasnya.

Untuk persiapan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), Ahmadi, Sena, dan Sihan menyiapkan diri baik fisik maupun non fisik.

“Persiapan utama adalah memahami rangkaian haji secara utuh dan memaknai setiap tujuan,” kata Ahmadi.

Sihan menambahkan, “Persiapan fisik dengan rutin berolahraga di hotel dan selalu minum vitamin agar badan fit.”***

Sumber Teks & Foto: Kemenag