Kisah Sang Pengembara Putra Khalifah

JENDELAISLAM.ID – Sadar bahwa dunia bisa menyilaukan siapa pun, sang putra khalifah memutuskan untuk mengembara. Bekerja sebagai tukang batu dan hidup seadanya. Yang terpenting, tetap dekat dengan Sang Khaliq.   

Mulai Mengembara

Khalifah Harun ar-Rasyid memiliki seorang putra berusia 18 tahun. Pemuda itu sering bersama orang-orang shaleh. Kebiasaannya adalah berziarah di kuburan dan berucap, “Engkau telah menjalani kehidupan yang fana. Engkau telah meninggalkan dunia yang tidak memberikan kedamaian. Karena engkau sekarang sudah mencapai kubur, aku hanya ingin mengetahui apa yang terjadi padamu dan pertanyaan-pertanyaan apa yang harus kalian jawab”.

Suatu hari, dia mendatangi ayahnya yang sedang duduk bersama para menteri dan pembantunya. Penampilan pemuda itu biasa saja, sama sekali tak mengesankan sebagai putra khalifah. Ia hanya mengenakan kain kasar dengan surban di kepala.

Sampai-sampai para pembantu berbisik-bisik bahwa pemuda itu sudah gila dan telah merendahkan khalifah. Mereka lalu meminta khalifah untuk menegur agar mengubah penampilannya.

“Engkau benar-benar telah merendahkanku, Anakku,” kata sang khalifah.

Lelaki itu tak menjawab melainkan hanya menunjuk kepada seekor burung liar yang hinggap di dekat situ.

“Aku minta kamu datang dan hinggap di atas lenganku.”

Yang mengherankan, burung itu terbang dan hinggap di atas lengan pemuda itu. Lalu putra khalifah meminta burung itu pergi dan burung itu pun terbang kembali ke tempatnya.

“Cara ayahanda mencintai dunia sungguh membuat aku malu. Karena itu, mulai saat ini aku memutuskan untuk meninggalkan tempat ini,” kata pemuda itu pada ayahnya.

Pemuda itu pun mengembara. Dia membawa sebuah al-Qur’an dan sebuah cincin sangat berharga pemberian ibunya. Ia menuju Bashrah dan mulai bekerja sebagai buruh.

Namun ia hanya bekerja seminggu sekali dan harus mencukupkan diri dengan pendapatan satu hari selama satu minggu. Ia hanya meminta upah sewajarnya dan tidak meminta lebih dari itu. Meskipun sedikit, yang penting bisa mempertahankan hidup.

Menjadi Tukang Batu

Kebetulan, salah satu dinding rumah Abu Amir Basri telah runtuh dan dia sedang mencari seorang tukang batu untuk membangunnya lagi. Saat itu Abu Amir melihat seorang pemuda tampan sedang duduk dan membaca al-Qur’an.

“Maukah kau bekerja untukku?” tanyanya pada pemuda itu.

“Ya, aku mau. Apa yang dapat aku kerjakan untukmu?”

“Aku ingin kau perbaiki dinding rumahku yang telah runtuh.”

“Baiklah, aku hanya minta upah seperluku, dan aku tidak bekerja selama waktu shalat.”

Abu Amir menerima kedua syarat ini. Tetapi begitu melihat pekerjaan pemuda itu yang berat dan bahkan sepuluh orang pun tak mampu mengerjakannya, Abu Amir memberikan dua kali lipat dari upah sebelumnya. Tapi pemuda itu menolak dan pergi sesudah mengambil jumlah sesuai kesepakatan awal.

Pada hari berikutnya, Abu Amir mencari anak itu, tetapi tidak menemukannya.

“Pemuda itu hanya bekerja pada hari Sabtu, Pak,” seseorang memberitahunya.

Hari Sabtu pun tiba, Abu Amir mencari pemuda itu lagi. Ternyata, sang pemuda sedang membaca al-Qur’an sama seperti sebelumnya ia bertemu. Abu Amir menyalami dan menawarkan pekerjaan kepadanya.

Kembali pemuda itu menyetujui. Secara sembunyi, Abu Amir mengintip pemuda itu saat sedang bekerja.

Abu Amir tidak percaya, bagaimana pemuda itu merekatkan adukan di dinding, batu-batu yang ada di tanah menyusun begitu cepat. Dari situ, Abu Amir meyakini bahwa anak muda itu pastilah orang saleh.

Setelah anak itu menyelesaikan pekerjaannya, Abu Amir memberikan tiga kali lipat dari kesepakatan, tapi lagi-lagi anak muda itu menolak sembari menegaskan kalau dia tidak membutuhkan uang tambahan. Dia hanya mengambil uang sesuai kesepakatan. Setelah itu pergi.

Minggu berikutnya, Abu Amir kembali mencari pemuda itu. Tetapi kali ini, jejak anak itu tidak ada. Setelah bersusah payah mencari, ada seorang laki-laki memberitahunya bahwa pemuda itu sedang terbaring sakit di dalam hutan. Abu Amir mengajak lelaki itu mencari si pemuda.

Pesan Sang Pengembara

Sampailah mereka di hutan. Abu Amir melihat anak muda itu terbaring di atas tanah setengah sadar, berbantalkan sepotong batu bata. Dia menyalaminya, tetapi tidak mendapat jawaban. Sekali lagi dia menyapanya, dan pemuda itu membuka matanya seolah sudah tahu ada orang datang.

Lalu dengan hati-hati, Abu Amir mengangkat kepala pemuda itu dan meletakkannya di pangkuannya. Anak muda itu kemudian bereaksi.

“Jangan tertipu kenyamanan duniawi! Kehidupan akan segera berakhir dan kita akan berpisah dengan kenyamanan itu. Nanti, jika ruhku telah meninggalkan kerangka yang fana ini, tolong mandikan aku dengan baik dan kuburkan aku setelah membungkus badan ini dengan pakaian yang sedang aku kenakan.”

“Mengapa tidak dengan kain kafan yang pas untukmu?”

“Orang-orang yang hidup lebih berhak memanfaatkan pakaian yang baru.”

(Kalimat ini juga pernah diutarakan Abu Bakar as-Shiddiq saat mau meninggal dunia. Dia katakan bahwa dia harus dikuburkan sesudah dibungkus dengan pakaian yang dia kenakan).

“Lama atau baru, kain kafan akan menjadi usang. Yang orang akan bawa ke akhirat adalah amal perbuatannya. Berikan surban dan tempat airku kepada penggali kubur sebagai upahnya dan bawalah cincin dan al-Qur’an ini kepada Khalifah Harun ar-Rasyid! Jagalah baik-baik dan serahkan sendiri barang-barang ini kepada sang khalifah! Tolong sampaikan barang-barang ini kepada khalifah! Beritahu beliau supaya berhati-hati terhadap kematian dan kelalaian!” pesan pemuda itu.

Setelah berkata demikian, pemuda itu menghembuskan nafas terakhirnya. Abu Amir baru menyadari ternyata pemuda itu seorang pangeran. Dia melaksanakan permintaan terakhir pemuda itu lalu menguburkannya. Dia memberikan surban dan tempat air kepada penggali kubur dan membawa al-Qur’an dan cincinnya ke Baghdad.

Ketika sampai di dekat istana, Abu Amir melihat rombongan keluar dari istana. Dia melihat angkatan bersenjata yang terdiri dari seribu tentara berkuda. Prosesi ini keluar satu per satu. Dan pada barisan ke sepuluh dia melihat khalifah keluar.

“Demi Tuhan, berhenti dan dengarlah apa yang akan aku katakan!” seru Abu Amir, “Barang-barang ini diberikan kepadaku oleh seorang anak pengembara yang memintaku untuk menyerahkannya kepada khalifah.”

Sang khalifah memperhatikan barang-barang yang rasanya sangat dikenalnya itu. Setelah beberapa saat, khalifah menundukkan kepala dengan penuh linangan air mata.

Ketika kembali di istana, sang khalifah memerintahkan agar tirai-tirai di kamarnya diturunkan.

“Panggil orang itu!” perintahnya pada pembantu.

Pembantu itu pergi untuk menemui Abu Amir dan memberitahukan bahwa sang khalifah ingin ditemani olehnya. Tak berapa lama, Abu Amir sampai di tempat itu. Ia melihat sang sedang duduk seorang diri. Khalifah meminta agar dia mendekat dan duduk di sebelahnya.

Khalifah bertanya apa yang sering kerjakan oleh anaknya saat masih hidup. Abu Amir memberitahukan kalau dia sering mencari nafkah dan bekerja sebagai tukang batu.

“Apa dia bekerja untukmu?” tanya Raja.

“Ya, Tuan”

“Apakah engkau yang memandikan anakku saat meninggal?”

“Ya, Tuan.”

Khalifah menyentuh tangan Abu Amir dan menggenggamnya erat-erat ke dadanya. Selanjutnya Khalifah menziarahi kuburan anaknya ditemani Abu Amir.

Suatu malam, setelah memanjatkan doa-doa, Abu Amir tidur dan bermimpi melihat sebuah cahaya yang berubah menjadi sebuah awan keperakan. Dilihatnya wajah pemuda pengembara itu keluar dari awan. Pemuda itu menyapanya dan berkata, “Semoga Allah membalas kebaikan yang telah engkau lakukan untukku.”

Abu Amir bertanya bagaimana keadaannya. Pemuda itu berkata bahwa insyaallah dia dikelompokkan ke dalam orang-orang yang diberkati, dan dia menikmati rahmat itu yang tak satu pun manusia dapat mengerti atau memahaminya.***

(Disadur dari Kisah Putra Harun ar-Rasyid dalam buku Mati Itu Spektakuler, karya Khawaja Muhammad, Zaman, Jakarta, 2011).

Sumber Foto: Pixabay/FuN_Lucky