Hujan menurut al-Qur’an dan Sains

JENDELAISLAM.ID – Di musim penghujan, intensitas hujan tergolong tinggi. Tapi kadang, saat kemarau pun, hujan terjadi. Dahsyatnya, air yang turun dari langit tersebut, mampu mengubah segalanya. Pohon yang tadinya meranggas, kembali bugar. Rerumputan dan semak-semak yang kering terbakar terik, kembali menghijau.  Semua tetanaman tampak segar dan adem dilihat mata setelah kena guyuran hujan.

Sebaliknya, hujan juga mampu meluluhlantakkan semuanya. Tanah longsor, banjir hebat adalah sejumlah contoh betapa ganasnya air hujan. Jadi, di samping hujan bisa mendatangkan rahmat dan anugerah, juga bisa berubah menjadi musibah.

Dalam QS. ar-Rum: 24 menyebutkan, “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, Dia memperlihatkan kilat kepadamu untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu setelah mati (kering). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengerti.”

Tapi kita tidak sedang membicarakan hujan yang bisa berakibat macam-macam. Baik atau buruk. Fokus kita adalah proses terjadinya hujan itu sendiri sebagaimana disinggung di dalam al-Qur’an.

Dalam QS. ar-Rum:  48 secara jelas menggambarkan proses terjadinya hujan diawali dengan awan yang tebal. Hujan yang diturunkan Allah ke bumi melalui beberapa proses, yaitu dengan mengirimkan angin yang menggerakkan awan. Kemudian melalui hukum-hukum alam yang telah ditetapkannya awan tersebut membentang dilangit dengan bentuk yang bergumpal-gumpal. Lalu dengan izin Allah keluarlah dari celah-celahnya air hujan kepada yang dikehendakinya.

Proses turunnya hujan tadi, ternyata sejalan dengan yang ditemukan oleh para ilmuwan. Terutama ketika radar udara sudah ditemukan. Berdasarkan penelitian, proses turunnya hujan sangat dipengaruhi oleh angin dan sinar matahari.  Prosesnya bisa dijelaskan di bawah ini:

Proses pertama adalah evaporasi (penguapan).Ketika panas matahari mengenai permukaan bumi yang berupa air, molekul-molekul air akan bergerak. Makin cepat molekul bergerak, terjadilah penguapan. Proses kedua adalah molekul-molekul air naik menuju atmosfer dalam bentuk uap air.  Ini disebut juga dengan kondensasi.

Proses ketiga, uap air naik menuju atmosfer. Semakin tinggi uap air naik, menjadikannya semakin dingin. Molekul-molekul air lalu melambat dan saling menempel. Di sinilah terjadi pengembunan. Hasil pengembunan ini berbentuk awan.

Proses keempat, titik-titik air terus bergabung di dalam awan. Semakin besar dan berat titik-titik air tersebut, kemudian jatuh ke permukaan bumi dan laut. Bentuknya bisa berupa air hujan, salju, maupun kristal es tergantung suhunya saat pengembunan. Inilah yang dinamakan proses presipitasi.

Proses kelima, air yang jatuh ke permukaan bumi mengalir ke sungai, danau, laut, dan sebagainya. Beberapa air yang jatuh ke permukaan bumi terserap ke dalam tanah.

Berdasarkan pemaparan di atas, proses hujan yang diteliti oleh sains sejalan dengan apa yang disampaikan oleh ayat al-Quran, padahal al-Quran turun sejak empat belas abad yang lalu. Ini adalah salah satu bukti kemukjizatan al-Quran yang selalu sesuai dengan zaman manapun.

Segudang Manfaat Air Hujan  

Tak hanya menjelaskan proses terjadinya hujan, manfaat hujan juga dinyatakan secara lugas dalam al-Qur’an. Pertama, hujan sebagai sumber kehidupan dalam aktivitas sehari-hari. Hujan diturunkan oleh Allah SWT untuk keberlangsungan hidup semua makhluk Allah.  Karena tanpa air, seluruh makhluk hidup dipastikan tidak dapat bertahan hidup.

Rujukannya adalah QS. al-Anbiya: 30, yang menerangkan secara umum tentang segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Secara ilmiah, air hujan juga mengandung berbagai unsur seperti H2O, asam nitrat, karbon, asam sulfat dan garam yang semuanya memiliki manfaat besar bagi kehidupan manusia di bumi.

Kedua, air hujan adalah rezeki dari Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam QS. Qaf: 9, “Dan dari langit, Kami turunkan air yang memberi berkah lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen.”

Ketiga, air hujan merupakan media beribadah bagi umat Muslim. Karena air hujan dikategorikan sebagai air suci mensucikan dan dapat dijadikan untuk berwudhu. Ini bisa dilihat dalam QS. al-Anfal: 11 yang artinya, “… Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syetan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu).”

Keempat, air sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). PLTA merubah energi gerak menjadi energi listrik. Supaya listrik bisa dihasilkan, butuh air yang bisa menggerakkan turbin.

Ternyata, terjadinya proses hujan selain menarik, juga punya manfaat yang luar biasa. Tak bisa dibayangkan bila dunia tanpa ada hujan.***

Sumber Foto: Pixabay/Publicdomainpictures