JENDELAISLAM.ID – Hari raya Idul Adha identik dengan hari raya kurban. Sebab, pada hari Idul Adha itu, umat Muslim di seluruh penjuru dunia yang tergolong mampu dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban.
Sebelum hewan-hewan kurban itu dibagikan, sebagaimana diketahui hewan-hewan kurban itu pun terlebih dahulu disembelih. Proses penyembelihan hewan kurban itu pun tidak boleh sembarangan. Namun, harus sesuai dengan syariat Islam. Adapun tata cara itu, antara lain: pisau yang digunakan untuk menyembelih harus tajam, dan binatang yang akan disembelih harus diperlakukan dengan baik.
Selain itu, seorang yang akan menyembelih disarankan untuk menjauhkan pisau dari pandangan hewan kurban. Hal penting lain yang tidak bisa dilupakan adalah menghadapkan binatang kurban yang hendak disembelih menghadap arah kiblat dan berdoa sebelum hewan itu disembelih.
Beberapa poin itulah yang disyariatkan dalam penyembelihan hewan kurban pada hari raya Idul Adha. Apakah syariat tentang tata cara penyembelihan hewan kurban yang diajarkan dalam Islam itu membuat hewan kurban tidak merasakan sakit sewaktu disembelih?
Temuan Ilmiah
Dari hasil kajian ilmiah, rupanya telah ditemukan hasil yang cukup mengejutkan dan bisa jadi cukup mencengangkan bagi sebagian besar umat Islam sendiri. Sebab, dari hasil kajian ilmiah itu ditemukan fakta bahwa hewan kurban yang disembelih dengan tata cara syariat Islam tidak merasakan rasa sakit saat disembelih.
Hasil temuan ilmiah itu tak lain dikemukakan oleh dua ilmuan dari Universitas Hanover Jerman yang bernama Profesor Wilhelm Schulze dan Dr. Hazim.
Dalam penelitian ilmiah itu, dua ilmuwan tersebut berupaya membandingkan tata cara penyembelihan hewan sebagaimana yang disyariatkan dalam Islam dengan penyembelihan hewan secara konvensional di Barat.
Di penelitian ilmiah itu, kedua orang tersebut sebenarnya ingin membandingkan kedua metode tersebut: manakah dari dua metode tersebut (antara Barat dan Islam) yang sejatinya lebih manusiawi?
Sebagai kajian ilmiah, keduanya pun mempraktikkan metode penyembelihan dalam Islam –melakukan penyembelihan dengan pisau yang tajam, dan memotong tiga saluran di leher binatang atau hewan yang disembelih: saluran makanan, saluran napas dan dua saluran pembuluh darah/arteri.
Keduanya juga mempraktikkan penyembelihan hewan ala Barat –yang biasanya dilakukan dengan memakai pistol listrik. Tujuannya tidak lain adalah untuk membuat hewan pingsan.
Sebelum proses penyembelihan hewan dengan dua metode itu dilaksanakan, karena hal ini untuk tujuan penelitian ilmiah, maka kedua ilmuwan tadi terlebih dahulu memasang micro-chip (Electro Encephalograph/EEG). Alat perekam itu dipasang di otak hewan. Sedangkan di bagian jantung hewan, dua ilmuwan itu memasang Electro Cardiograph/ECG. Tujuan dari pemasangan Electro Cardiograph/ECG ) itu adalah untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar (setelah hewan itu disembelih).
Lalu, hasil apakah yang ditemukan dari penelitian ilmiah yang dilakukan dengan cara membandingkan dua metode penyembelihan hewan ala Barat dan Islam tersebut?
Sungguh mencengangkan. Kedua ilmuwan itu menemukan fakta menarik dalam prosesi penyembelihan hewan ala Islami. Sebab, pada metode penyembelihan secara Islami, pada tiga detik pertama setelah hewan disembelih tidak ditemukan catatan ada perubahan pada grafik EEG. Temuan ini memberikan penjelasan (bahwa hewan yang disembelih secara Islami) tidak merasakan rasa sakit.
Sementara itu, pada tiga detik berikutnya EEG pada otak kecil hewan yang disembelih secara Islami menunjukkan adanya penurunan grafik secara bertahap –yang mana hal ini mirip dengan tidur. Setelah itu, EEG merekam secara bertahap adanya penurunan grafik hingga si hewan kemudian kehilangan kesadaran.
Sebaliknya, hasil perekaman dari prosesi penyembelihan ala Barat menunjukkan fakta yang berlainan dengan prosesi penyembelihan hewan secara Islami. Hewan yang disembelih secara konvensional ala Barat justru menunjukkan peningkatan grafik EEG yang signifikan.
Dari hasil temuan itu, kedua ilmuwan tersebut mengetahui bahwa hal itu mengindikasikan adanya rasa sakit yang dialami oleh hewan (yang disembelih ala Barat).
Temuan lain, kedua ilmuwan itu mendapatkan catatan dari ECG yang menunjukkan adanya penurunan grafik yang mengakibatkan jantung (pada hewan yang disembelih ala Barat) kehilangan kemampuan untuk menarik darah. Padahal, keluarnya darah pada hewan yang disembelih itu sangat dibutuhkan. Pasalnya, ketika darah tidak keluar, daging hewan itu pun tidak aman untuk dikonsumsi.
Dari penelitian ilmiah dengan cara membandingkan dua metode penyembelihan itulah, akhirnya bisa ditarik kesimpulan bahwa tata cara penyembelihan hewan dalam syariat Islam menunjukkan hasil bahwa hewan tidak merasakan sakit (saat disembelih).
Selain itu, hewan juga aman dikonsumsi. Dari penelitian itu pula, akhirnya dapat dijelaskan rupanya pelaksanaan prosesi penyembelihan hewan ala Islam lebih manusiawi dibandingkan metode penyembelihan ala Barat.
Islam Memanusiawikan Hewan
Dari hasil penelitian ilmiah di atas, kini menjadi terang dan jelas bahwa penyembelihan hewan sebagaimana yang disyariatkan dalam Islam adalah sungguh manusiawi. Hal ini tidak lain karena Nabi SAW meneladankan untuk berbuat baik pada hewan atau binatang yang hendak disembelih. Salah satunya adalah dengan menajamkan pisau dan memperlakukan binatang dengan baik.
Hal itu didasarkan pada hadits Nabi, “Sesungguhnya Allah mewajibkan perbuatan baik terhadap segala sesuatu. Apabila kalian membunuh, maka bunuhlah dengan cara yang baik. Dan jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik pula. Hendaklah salah seorang di antara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan (tidak menyiksa) sesembelihannya” (HR. Muslim).
Selain itu, Nabi SAW juga menganjurkan untuk menjauhkan pisau (yang hendak digunakan untuk menyembelih) dari pandangan mata hewan.
Suatu hari, Nabi SAW pernah melewati seseorang yang hendak menyembelih hewan, dan orang itu meletakkan kakinya di dekat leher seekor kambing, sedangkan dia menajamkan pisaunya. Binatang itu pun melirik kepadanya.
Rasul pun kemudian bersabda, “Mengapa engkau tidak menajamkannya sebelum ini (sebelum dibaringkan –pen)? Apakah engkau ingin mematikannya sebanyak dua kali?” (HR. Ath-Thabrani).
Tata cara penyembelihan hewan sebagaimana diajarkan Nabi SAW itu tidak dapat dimungkiri telah menunjukkan bahwa Islam –dalam prosesi penyembelihan— telah me-“manusiawi”-kan hewan. Sebab, sedari awal, dalam prosesi penyembelihan hewan (termasuk hewan kurban), tidak dilaksanakan untuk menyakiti binatang.***
Sumber Foto: Unsplash/Afnizar Nur Ghifari
