Tanggalkan Tamak, Berbekal untuk Akhirat

JENDELAISLAM.ID – Dunia memang memesona. Saking menariknya, banyak orang yang melupakan segalanya untuk mengejar dunia. Tidak puas dengan yang sudah dimiliki, ingin memiliki yang lainnya yang belum ada. Rasa dahaga akan dunia begitu menggejolak dalam dada.

Penggambaran tentang kesenangan hidup di dunia, juga dinyatakan dalam QS. Ali Imran: 14.

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Celakanya, ketika mengejar dunia, banyak orang terjebak dengan kecintaan terhadap dunia, hingga merasa bahwa dunia merupakan tujuan hidupnya.  Tidak jarang, orang akhirnya menghalalkan segala cara untuk memperoleh dunia yang menggiurkan tadi.  Hawa nafsu diperturutkan, logika disalahgunakan dan peringatan diabaikan.

Cara-cara kotor pun terkadang dipilih. Agar materi/dunia yang sebenarnya semu itu bisa dalam genggaman.  Banyak orang menempatkan dunia adalah segalanya. Banyak orang lupa daratan hanya karena mengejar dunia. Sehingga, banyak orang yang kemudian tamak terhadap dunia.

Rasulullah SAW pernah menyampaikan kekhawatirannya umatnya yang akan diuji dengan kesenangan dunia.

Kata beliau di depan para sahabat, “Bukan kemiskinan yang aku takuti untukmu, tapi apa yang aku takuti untukmu adalah dunia akan dihadirkan untukmu seperti yang telah disajikan untuk mereka yang sebelum kamu, lalu kau akan bersaing untuk itu, dan itu akan terjadi, menghancurkanmu, sama seperti itu menghancurkan mereka” (HR. Ibn Majah).

Bersikap Sewajarnya

Di dalam al-Qur’an, Allah SWT menggambarkan dunia hanyalah permainan belaka, Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. al Hadid: 20).

Lantas, bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi?

Rasulullah SAW memberikan illustrasi menarik.  Beliau menggambarkan bahwa sikap seorang Muslim ketika di dunia adalah layaknya seorang musafir. Pada suatu waktu, Rasulullah memegang pundak Abdullah bin Umar dan berpesan, “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau orang yang sekadar melewati jalan (musafir).”

Karena itu, memahami hakikat dunia secara benar, dapat membantu bagaimana seharusnya menyikapi dunia dengan proporsional. Kita tidak perlu membenci dunia, melainkan menjadikan dunia sebagai jalan yang mesti dilalui sebelum menuju alam keabadian.

Tujuan hidup tidak hanya berhenti di dunia, melainkan akhirat. Allah SWT berfirman dalam QS. al-Qassas: 77 yang artinya:

“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Dunia jelas bukanlah tujuan akhir dari perjalanan hidup manusia. Dunia tidaklah kekal, karena kematian datang sebagai akhir dari kehidupan di dunia ini.

Akan tetapi, sejatinya dunia adalah ladang untuk kehidupan yang abadi dan kekal, yaitu di akhirat kelak. Visi seorang Muslim adalah akhirat, yakni menjadikan dunia sebagai ladang amal terbaik untuk kebahagiaan di akhirat kelak.

Begitulah Allah SWT menegaskan  bahwa kampung akhirat itu lebih baik dari kehidupan dunia. Inilah paradigma yang seharusnya seorang Muslim mengerti. ***

Sumber Foto: Pixabay/mostafa_meraji