JENDELAISLAM.ID – Siapa bilang, kepintaran seseorang berimplikasi baik pada perilakunya. Tidak, tidak ada jaminan bahwa kapasitas intelektual seseorang, akan berpengaruh baik pula pada perilakunya.
Buktinya banyak. Tidak sedikit orang yang pintar justru menggunakan kepintarannya untuk mengelabui orang. Kendati banyak pula orang yang cerdas bertambah baik pula kepribadiannya.
Di negeri yang kita sayangi ini, banyak bertebaran orang jenius tapi keblinger. Malahan terkadang melihat para pemimpin yang tentunya cerdas namun perilakunya memuakkan.
Bagaimana tidak, drama-drama penjegalan, sikut-menyikut, jilat-menjilat tampak kasat mata di hadapan kita. Padahal nyata-nyata mereka sudah mengantongi amanah yang demikian besar, namun kepentingan pribadi atau kelompok sepertinya lebih dikedepankan menyingkirkan kepentingan publik.
Korupsi, fitnah, tindak asusila dan kezaliman dimana-mana. Yang berkuasa menjepit yang lemah, yang kuat menggencet yang tak berdaya, akhirnya yang lemah menjadi korban dan kalah. Persis dengan sebuah analogi yang mengatakan ‘asu gede menang kerahe’ (anjing besar menang bertarung, yang kecil terinjak-injak).
Kita tentu mengenal istilah kejahatan kerah putih, kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang pintar dan terhormat. Mereka tidaklah bodoh karena latar belakang pendidikannya tinggi.
Tetapi mengapa tindakannya kerap merugikan kepentingan banyak orang? Pastilah ada ‘sesuatu’ yang salah.
Barangkali inilah jika makhluk yang paling cerdas dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain itu memandang segala sesuatunya dengan mata telanjang, mendengar dan melakukan segala sesuatunya karena bisikan syahwat.
Semua berjalan tanpa kendali. Pokoknya perut kenyang sekali pun yang lain kelaparan, pokoknya puas dan bisa terbahak-bahak persyetan dengan penderitaan orang lain.
Dari sini, ternyata kecerdasan intelektual semata terbukti tak mampu mengerem sifat-sifat buruk dan jahat. Justru kenyataannya orang akan semakin piawai melakukan kejahatan karena disokong oleh kapasitas intelektual pula.
Dalam buku al-Muhlikat, KH. Abul Hidayat Saeroji mengatakan bahwa sebenarnya pokok masalah yang sangat substansial adalah pada diri manusia itu sendiri.
Masih menurut Pak Kyai, manusia tidak adil memperlakukan dirinya sendiri. Terhadap hal-hal yang sifatnya fisik dengan cepat segera memenuhi, seperti jika lapar segera makan. Tetapi menyangkut masalah hati dibiarkan kering kerontang dan tidak mendapatkan porsi yang semestinya. Akibatnya tindakannya seringkali tidak melibatkan hati.
Rasulullah SAW mengatakan bahwa di dalam jasad manusia itu ada segumpal darah, jika baik, maka akan menjadi baik pula seluruh jasadnya, jika buruk, maka buruk pula seluruh jasadnya. Dia adalah qalbu atau hati.
Artinya, apabila banyak orang berlaku tidak benar, sejatinya mereka hanya mengedepankan nafsu/syahwat semata, dengan tidak melibatkan hati nurani (baik). Padahal seharusnya, apapun yang akan kita lakukan perlu bertanya terlebih dahulu pada sanubari kita yang dalam; salah atau benar, baik atau buruk, mulia atau kotor, dan sebagainya. Bila benar/atau baik, lakukanlah. Bila buruk, tinggalkanlah.
Hati yang baik, tentu akan menentang perilaku negatif dan jahat, apalagi melukai dan merugikan banyak orang. Ini sangat bertolak belakang.
Ingat, fitrah manusia adalah mencintai kebaikan dan kemuliaan. Ketika kita mencintai sebaliknya, maka kita perlu mengoreksi diri sendiri secara serius.***
Sumber Foto: Pixabay/Josealbafotos
