JENDELAISLAM.ID – Saat lebaran, kecenderungan orang mengonsumsi makanan biasanya meningkat. Padahal memakan yang berlebih bisa mengundang penyakit diabetes. Untuk itulah, setelah lebaran, kita juga terus dianjurkan untuk senantiasa menjalankan puasa sunnah, baik puasa Syawal, Senin Kamis atau ayyamil bidh (3 hari di pertengahan bulan).
Selama ini, mungkin kita tidak sadar bahwa penyakit yang menjangkiti tubuh kita ini disebabkan oleh pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat. Cobalah tengok apa penyebab penyakit diabetes! Itu bermula dari kebiasaan buruk kita mengonsumsi makanan.
Padahal sedari awal, kita dianjurkan untuk memakan sewajarnya dan seimbang sesuai dicontohkan Nabi SAW. Tapi karena banyak di antara kita yang bandel dan mengabaikan pesan Nabi SAW, makanan-makanan yang kita santap itu bukannya menyehatkan malahan mendatangkan penyakit.
Begitulah, penyebab utama diabetes adalah terlalu banyak makan dalam jangka panjang. Yang harus kita pahami, tubuh menyimpan gula setelah kita makan.
Ketika semakin banyak makanan yang dikonsumsi dan meningkatkan produksi insulin, pankreas akan mengalami ketegangan dan kelelahan hingga pada akhirnya tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Akibatnya, akan terjadi penumpukan gula dalam darah yang semakin lama semakin bertambah banyak. Ini yang akhirnya menyebabkan penyakit diabetes.
Dr. Jason Fung, seorang ahli gagal ginjal di Toronto, mengatakan bahwa cara termudah agar stok cadangan gula kembali turun sehingga dapat menyimpan tambahan gula adalah dengan berpuasa. Makin sering berpuasa, makin cepat kita sembuh dari diabetes.
Bahkan dokter satu ini bilang, berpuasa adalah obat manjur untuk mengatasi diabetes. Puasa sudah dipraktikkan sejak zaman dahulu. Semua agama besar mengajarkan puasa, karena pada kenyataannya memang sangat menyehatkan bagi tubuh. Dengan berpuasa, lanjut Jason Fung, kadar insulin bisa turun, yang pada gilirannya dapat mencegah lingkaran syetan penyebab diabetes.
Dahsyatnya Puasa
Dalam Buku Induk Mukjizat Kesehatan Ibadah, karya Dr. Jamal Elzaky penerbit Zaman, menyebutkan bahwa seseorang yang berpuasa untuk jangka waktu yang cukup panjang (12-18 jam), kadar glukosa dalam darah akan menurun. Berpuasa merupakan cara paling baik untuk menjaga agar kadar gula dalam darah tetap normal.
Malahan begitu dahsyatnya puasa dari sisi medis, beberapa pusat pengobatan menjalankan terapi penyembuhan penyakit gula dengan menyuruh pasiennya untuk berpuasa selama kurang lebih sepuluh jam setiap harinya dan dilakukan selama dua puluh hari. Setelah itu pasien diminta melakukan pekerjaan ringan selama tiga minggu.
Ternyata, metode penyembuhan seperti di atas hasilnya luar biasa karena sebagian besar penderita penyakit gula berhasil sembuh tanpa memakai obat kimia sedikit pun.
Pada 1987, Hawker dan kawan-kawannya mengadakan penelitian yang melibatkan 52 responden penderita diabetes. 20 orang di antaranya bergantung pada suntik insulin. Hasilnya, didapat bahwa setelah berpuasa, 15 di antara penderita diabetes yang tidak bergantung pada insulin mengalami penurunan kadar gula cukup signifikan dibanding sebelum berpuasa.
Sementara penderita dengan insulin hasilnya adalah kadar insulin yang disuntiikan pada mereka menurun hingga 10%, 7 di antaranya menurun kadar gulanya, sedang sisanya tetap. Karena itu para peneliti menganjurkan secara khusus para pasien agar menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh pada Ramadhan.
Jadi, jelas bukan, puasa merupakan terapi yang tepat untuk penyembuhan diabetes. Namun, pada keadaan tertentu penderita diabetes tidak disarankan berpuasa.
Penderita diabetes tidak dianjurkan puasa apabila kontrol kadar gula darahnya buruk (gula darah yang tidak terkendali), ibu hamil dan menyusui dengan diabetes, anak-anak dengan diabetes, diabetes dengan komplikasi (seperti hipertensi, jantung, gagal ginjal, hipoglikemi, hiperglikemia), mengalami peradangan berulang, pernah mengalami serangan diabetes lebih dari dua kali, bergantung pada terapi insulin. Sehingga untuk kategori penderita diabetes dengan catatan-catatan di atas, tentu harus dikonsultasikan dulu dengan dokter apabila ingin berpuasa.
Karena itu benar apa kata Nabi, “Shumu tashihhu”, berpuasa itu menyehatkan. Artinya, jika kita menjalankan puasa yang dicontohkan Nabi SAW sembari memperhatikan pola makan dan gaya hidup sehari-hari ala Nabi saw. insyaallah kesehatan tubuh kita akan terjaga.
Buktinya banyak penelitian medis menjawabnya bahwa puasa sangat baik bagi kita bahkan bagi mereka yang sudah mengidap diabetes pun akan membaik kesehatannya dengan berpuasa.***
Sumber Foto: Pexels/Jose Aragones
