JENDELAISLAM.ID – Selama ini, banyak orang Islam acapkali berkutat pada dogma dan dalil normatif dalam memahami agama. Acuan dan cara berpikir yang digunakan pun kerap berkiblat kepada para pemikir Muslim abad pertengahan, seperti: al-Ghazali, Ibnu Qayyim, dan sebagainya.
Padahal persoalan yang dihadapi masa sekarang ini jauh lebih berbeda dan kompleks. Bukan sekedar jawaban normatif belaka yang dibutuhkan, tetapi harus ada pembuktian secara ilmiah.
Kegelisahan inilah yang ditangkap Agus Mustofa. Pria kelahiran Malang, 16 Agustus 1963, ini prihatin melihat umat Islam yang cenderung stagnan lantaran tidak punya sikap kritis.
Ia ingin menggugah umat Islam, untuk merenungkan kembali keyakinannya. Maksudnya, tidak sekadar yakin saja. Tapi, memahami apa yang membuat keyakinan itu muncul dengan menggunakan akal kritis. Tidak hanya menelan mentah-mentah doktrin yang ada.
Pendekatan yang digunakan Agus dalam memahami agama adalah sains dan teknologi sesuai dengan kapasitas keilmuannya. Sebab, ia yakin, sains dan teknologi adalah bagian dari realita alam dan realita alam adalah ciptaan Allah.
Nah, proses pemahaman itulah yang kemudian disebutnya sebagai tasawuf modern.
Agus Mustofa hadir dengan pemikiran baru yang segar dan sedikit membangkitkan lamunan kita. Buah pemikirannya dituangkan dalam beberapa buku yang sudah diterbitkan. Semua bukunya yang merupakan serial tasawuf modern ini mengulas persoalan agama dengan sentuhan yang baru, berbeda daripada yang lainnya. Ya, perpaduan tasawuf dan sains.
Pengalamannya menjadi wartawan selama + 14 tahun membuat Agus tak memiliki kesulitan menuangkan pemikirannya mengenai tasawuf modern.
Sejumlah karyanya yang cukup menyentak dan memicu kontroversi adalah Pusaran Energi Ka’bah, Ternyata Akherat Tidak Kekal, Terpesona di Sidratul Muntaha, Untuk Apa Berpuasa?, Menyelami ke Samudera Jiwa dan Ruh, Bersatu dengan Allah, Mengubah Takdir, Tahajjud Siang Hari, Dhuhur Malam Hari, Tak Ada Azab Kubur, Poligami Yuuk, dan masih banyak yang lainnya. Dan buku-buku tersebut boleh dibilang telah menjadi best seller.
Karena menyodorkan perspektif yang berbeda, tak mengherankan jika setiap buku yang terbit hampir selalu mengundang pro-kontra. Tak sedikit yang mempertanyakan sekaligus menguji kebenaran pemikirannya. Kendati demikian, ia tetap bergeming dengan “kredo”-nya bahwa masih banyak dogma Islam yang perlu didalami serta didialogkan.
Tasawuf dan Sains
Bukan secara kebetulan Agus Mustofa mengenalkan pemikirannya mengenai tasawuf modern, akan tetapi melalui pergulatan cukup panjang. Perkenalannya dengan pemikiran tasawuf dan ilmu agama lainnya didapat dari lingkungan keluarganya yang agamis sejak kecil.
Ia seringkali berdiskusi dengan ayahnya yang sufi, Syekh Djafri Karim. Ayahnya merupakan guru tarekat yang intens, dan pernah duduk dalam Dewan Pembina Partai Tarekat Islam Indonesia pada masa Bung Karno. Pengenalan itu berlangsung setiap ada kesempatan.
Dalam setiap kesempatan, pemikiran kritis mengenai agama tetap ia kembangkan, termasuk saat kuliah. Ia rajin mengikuti kajian-kajian.
Apalagi, di kampusnya, ia bertemu dengan guru besar Teknik Nuklir UGM, Prof. Baiquni (alm) dan dosen fisikanya, Ir. Sahirul Alam MSc. Merekalah yang memperkenalkannya keterkaitan antara ilmu pengetahuan dan agama. Bahwa keduanya semestinya tidak terpisah, melainkan saling terkait.
Kekritisan Agus dalam melakukan analisa semakin terasah sejak ia bergabung di Koran Jawa Pos, Surabaya, pada tahun 1990. Kemudian ia ditugasi untuk mendirikan stasiun TV Jawa Pos, JTV. Ia menjadi General Manager sejak tahun 2000-2003.
Pola pikir Agus ini terbawa ketika berbicara di setiap forum. Ia pun diminta mengisi kajian di Masjid al-Wahyu Menanggal. Dari sinilah, diskusi berkembang dan ia mulai diminta berceramah keliling ke beberapa tempat untuk memaparkan pemikirannya.
Pada 2003, ia dan rekan-rekan mendirikan Forum Kajian Padang Mahsyar yang khusus mendiskusikan tasawuf modern. Dan akhirnya, arek Malang ini fokus melakukan syiar dalam berbagai forum, seperti: di masjid, kampus, instansi perusahaan, dan sebagainya.

Dua buku karya Agus Mustofa (HM)
Ibadah adalah Empirik
Memang sepertinya tidak mudah menggabungkan pemahaman tasawuf dengan pemikiran modern. Pasalnya masing-masing seolah berjalan di atas rel yang berbeda. Yang satu seakan lepas dari persoalan dunia, yang lainnya justru membumi, berkenaan dengan urusan manusia. Namun sesuatu yang sepertinya mustahil itu, justru bisa saling mendukung. Bagaimana caranya?
Pendekatan ilmiah yang pernah dipelajari Agus digunakan untuk merekonstruksi cara menafsirkan al-Qur’an. Sebab menurutnya, al-Qur’an adalah sumber inspirasi yang tiada habisnya, semakin digali semakin deras ide yang muncul darinya.
Informasi, bacaan yang demikian banyak, ternyata setelah di-kroscek dengan al-Qur’an, al-Qur’an memberikan visi holistik di berbagai permasalahan. Inilah yang harus dieksplorasi. Karena dalam pandangannya, ibadah, itu ternyata empirik. Syahadat, misalnya, adalah pembuktian, bukan hanya komitmen untuk mengesakan Allah saja, tapi pembuktian dalam kehidupan.
Secara spesifik, Agus pun coba membuktikan termasuk ketika menulis buku keempatnya yang bertajuk, Untuk Apa Berpuasa? Benar tidak Rasul mengatakan, “Berpuasalah, maka kamu akan sehat.”
Untuk menguji kebenarannya, harus ada pembuktian empirik. Agus mencari beberapa relawan, sebelum memasuki puasa Ramadhan, mereka diajak ke lab kesehatan untuk mengecek gula darah, asam urat, kolesterol, terus puasa sambil diamati. Bila Nabi mengatakan, setelah 10 hari ada efeknya, 10 hari lagi ada efeknya, dan 10 hari ada efeknya, ternyata benar. Mereka yang berkolesterol tinggi menjadi turun. Yang asam uratnya tinggi juga turun. Semuanya jadi normal.
Jadi dalil shûmu tashihhu tersebut bukan sekedar terlontar dari lisan Nabi yang harus dibenarkan begitu saja, tapi bisa dibuktikan dengan logika ilmiah. Artinya, siapa pun yang melakukan puasa dengan baik dan benar, pasti akan sehat.
“Kalau saya puasa dengan baik akan sehat, Anda puasa dengan baik juga akan sehat. Diulang oleh siapa pun, kapan pun dan dimana pun, hasilnya begitu. Itu berarti sama dengan hukum-hukum fisika dan hukum-hukum ilmu pengetahuan,” kata Agus.
Tidak cukup di situ, Agus juga menyiapkan kamera aura. Perangkat ini bisa menghasilkan cahaya tubuh yang menggambarkan kualitas jiwa. Bila orang lagi tertekan, emosi, depresi, tatkala difoto akan memancarkan warna merah. Kalau lebih tinggi lagi akan berwarna merah jingga, kuning, biru, hijau, ungu sampai putih.
Demikian pula orang yang berwudhu maupun yang tidak, ada dampaknya. Dzikir dan tidak dzikir, ada dampaknya. Shalat dan tidak shalat, ada dampaknya. Semua ini memberi dampak kepada kita.
“Dzikir juga sama. Ala bidzikrillahi tatmainnul qulub, berdzikirlah, maka kamu akan tenteram bisa dibuktikan kalau saya berdzikir saya akan tenteram, Anda tenteram, dan semua akan tenteram. Berarti al-Qur’an, ibadah adalah empirik. Artinya bisa dibuktikan.”
Contoh-contoh di atas mengindikasikan bahwa tasawuf dan pemikiran modern justru saling menguatkan. Karena itulah, Agus ingin mendirikan laboratorium al-Qur’an yang mengkaji ayat-ayat al-Qur’an dengan perspektif sains dan teknologi melalui pembuktian-pembuktian.
Di samping itu, untuk mendukung gagasan besarnya, Agus juga membuat wadah dengan menggandeng orang-orang yang punya kesamaan visi. Ia kumpulkan para pakar dan mendiskusikan berbagai hal yang berkaitan dengan pembuktian. Karena ternyata cukup banyak pakar yang punya ide sekaligus membuktikan penemuannya yang berjalan seiring dengan informasi di dalam al-Qur’an.
Cara inilah yang dipandang Agus bisa memberikan pemahaman baru kepada masyarakat bahwa ajaran agama yang sifatnya dogmatis, perlu dikaji, ditafsiri, dan dibuktikan kebenarannya melalui pemikiran modern. Bukan sekedar membenarkan saja. Kini, pria satu ini intens melakukan pembuktian-pembuktian yang mungkin bisa membuat umat mendapatkan pencerahan.***
Sumber Foto: FB Agus Mustofa
